Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Mekkah Dan Goblognya Wahabisme

Assiry gombal mukiyo, 2013


Betapa berubahnya Mekah. Ketika dulu sebuah pusat spiritual manusia pertama kali dibangun oleh seorang manusia pertama di bumi yang bernama Adam As. (S. AL'AMRAN, 3:96) dibaca: -- inna awwala baitin wudhi'a linna-si lalladzi- bibakkata muba-rakan wahudan lil'a-lami-n, Adam telah membangun pusat energi spiritual dan pusat magnet gravitasi enegi ilahiyyah yang bernama ka'bah sebagai bagian dari pertobatannya karena telah memakan khuldi sebagai sebuah takdir bhwa manusia memang menjadi pemimpin (khalifah) di bumi dan bukan disurga. Inni jaa'ilun fi alardhi khaliifah.

Jika kita duduk –duduk, ketika wajah matahari redupkan matanya mengerling senja. Kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.
Memang di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, yang disebut Abraj al Bait.Raksasa ini lebih dari 600 tingginya menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis "Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar.Juga tempat tinggal garasinya bisa menampung 1000 mobil.Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu.Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Ka’bah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih gelisah redup akan sinarnya sendiri.

Betapa berubahnya Mekah
atau jangan-jangan malah berakhir.

Hampir 60 tahun yang lalu mereka para arsitek dunia mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah.Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam.Bahkan mereka renggut nyawa gunung dan bukit. 

Lihatlah di mekkah lapisan-lapisan sejarah.Hampir semuanya ..... Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parker.Untung saja makam Nabi juga tidak dikeruk atau dihancurkan sekalian,karena takut syirik dan khurafat. 

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu justru hilang sifat uniknya.

Wahabisme, adalah kekuatan dibelakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu.Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah – dan sebab itu harus disembah. Itulah alasan yang di jadikan tameng bagi wahabisme.Bodohnya orang -orang wahabi ini. 

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten.April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan.Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan dan diluluhlantakkan rata dengan tanah. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum. 

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, Ekspresi keprihatinan para ulama, Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan Kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya, di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”, mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas.Apa yang terjadi dengan wahabi ini? 

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah. 

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam? 

Saya pinjam kalimat Al Habib Luthfi Pekalongan ," Mudah sekali menghancurkan islam, hancurkan sejarahnya, hancurkan peradabannya, jika hindu dan Budha memiliki peninggalan sejarah ,kristen dan katolik juga memiliki sejarah masa silamnya dari bangunan dan tempat ibadahnya,sedangkan kita sejarah dan bukti -bukti peninggalam islam telah dihancurkan oleh orang -orang islam sendiri yang mendalilkan khurafat dan syrik. Maka Islam kelak hanya tinggal mitos dan cerita atau dongeng pengantar tidur belaka.Islam dianggapa hanya sebuah cerita dan novel karena jika ditanya " mana bukti sejarah dan peninggalannya? kita diam seribu bahasa tak mampu berkata bahkan bercerita karena dianggap tidak ilmiah dan hanya omong kosong jika tidak disertai dengan bukti -bukti peninggalan sejarahnya yang adiluhung.Maka tunggulah kehancuran Islam". 

Ka'bah yang terletak ditengah-tengah kota mekkah adalah pusat magnet spiritual bagi manusia yang ingin bermesraan dan dekat sedekat -dekatnya dengan Tuhannya,sekarang seperti menjadi penghalang bagi kedekatan itu.Mekkah (masjidil Al Haram) yang dalam Al Quran di sebutkan sebagai satu tempat yang oleh Allah ditumpahkan dan dilimpahkan seluruh karunia dan keberkahanNya (alladzi baarakna haulahu),kini seperti robot yang menghujam ulu nadi bagi jiwa-jiwa yang ingin Khusu' menuju pelukan sejatiNya (yaa ayyatuha annafsu almuthmainnah irji'ii ila rabbiki radiyatan mardhiyyatan).


Sebuah kritik bagi kapitalisme yang berwajah wahabi dengan mengatas namakan modernitas dan pembaharuan Islam.
Close Menu