Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Virus Galau

Assiry gombal mukiyo, 25 Oktober 2014


Dalam Kamus Indonesia, galau diartikan kacau (pikiran), sedangkan gelisah diartikan tidak tenteram; selalu merasa khawatir (hati); tidak tenang (tidur); tidak sabar lagi menanti; cemas.
Rupanya ada nilai rasa berbeda saat kedua kata itu disandingkan. Akan lebih jelas lagi saat disandingkan dengan sebuah kalimat misalnya: pikiranku sedang kacau (galau) dan hatiku sedang gelisah. Dua kalimat itu membedakan dengan tegas bahwa galau berkaitan dengan pikiran/logika, sedangkan gelisah berkaitan dengan hati/perasaan. Oleh karena itu, kita sering mendengar orang berbicara mengenai perbedaan logika dan perasaan.



Dalam sebuah kesempatan saya sering mengatakan kepada temen -temen Santri PSKQ, bahwa galau adalah sebuah kekacauan pikiran yang tidak terfokus pada satu titik. Di lain pihak, gelisah adalah sebuah pemikiran yang terfokus pada satu titik.

Misalnya kegelisahan Soekarno, kegelisahan Senthot Prawirodirdjo (usia 16 tahun sudah menjadi panglima perang Pangeran Diponegoro), kegelisahan Diponegoro, kegelisahan Soedirman akhirnya membuahkan sebuah gerakan yang luar biasa.

Namun, kegalauan tidak akan menghasilkan apa-apa karena ia adalah kekacauan pikiran yang tidak terpusat pada satu masalah tetapi gabungan dari beberapa masalah yang akhirnya hanya menimbulkan stres. Seorang santri PSKQ bisa terkena virus Galau karena memikirkan cewek yang ternyata dinikahi orang lain, berbarengan dengan itu juga memikirkan bagaimana bisa belajar kaligrafi dan Seni Rupa secara fokus, belum lagi keuangan untuk mencukupi kebutuhan belajar yang minim, dan masalh air pam yang kadang tidak lancar misalnya, akhirnya malah mengakibatkan guncangan fikiran dan stres berat.

Gerakan Soekarno, Senthot, Diponegoro, dan Soedirman sebagai hasil kegelisahan tersebut memang sesuai kenyataan karena mereka bekerja dengan hati nurani, berupaya melawan penjajah, dan melepaskan logika mengenai hitung-hitungan kekuatan/modal. Seandainya waktu itu mereka menggunakan logika, mungkin pergerakan perjuangan itu tidak akan pernah ada. Dengan demikian, tepat bila dikatakan bahwa mereka waktu itu gelisah bukan galau.

Saat ini kita sering mendapatkan ungkapan galau itu muncul dari mulut remaja. Apa yang terjadi? Apakah mereka benar-benar galau, benar-benar sedang dalam keadaan pikiran kacau atau sekadar salah menggunakan istilah?

Sedang gelisah, tetapi terucap galau? Seandainya mereka benar-benar galau karena menghadapi berbagai macam masalah seperti kuatnya pengaruh gaya hidup hedonis, tekanan atau tuntutan zaman, dan lain-lain, harus ada upaya untuk membantu mereka memetakan masalah.

Mereka harus dibantu atau dibiasakan mengurai masalah satu persatu sehingga dapat fokus pada satu titik. Dengan demikian, kegalauan akan menjadi kegelisahan yang akhirnya dapat menghasilkan sesuatu bagi diri dan negerinya.

Keep spirit to santri -santri PSKQ.
Close Menu