Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Wanita Pujaan Syahwat



Muhammad Assiry, 21 Juni 2014


Sejak sebelum ada Nabi Adam diciptakan Tuhan, sudah ada kesimpulannya dan semua makhluk sepakat -wong ketika Tuhan mau bikin manusia saja Malaikat ngenyang (protes): “Apakah Allah akan menciptakan manusia, yang toh kerjanya membuat kerusakan di bumi, termasuk merusak dirinya sendiri, serta menumpahkan darah… Soalnya Malaikat sudah punya referensi: dulu manusia (yang diselidiki Darwin) itu kerjanya merusak dan akhirnya musnah sendiri. Kemudian, Tuhan mau bikin lagi dan dimulai Adam: Malaikat gelisah hatinya dan cemas ketika proses awal Tuhan merencanakan untuk menciptakan adam sebagai khalifah di bumi..
Yang menjadi tema utama pembahasan saya itu ada dua kenyataan. Pertama, tidak ada wanita yang sejak awal memang bercita-cita menjadi pelacur. Tidak ada gadis berdebar-debar hatinya membayangkan alangkah indahnya kalau bisa menjadi tuna susila, sehingga berdoa “Ya Allah, jadikanlah aku wanita tunasusila. Fa ila hadzihiu’niyyah assholihcih alfaaaatihah. … Kedua, tidak ada wanita tuna susila yang meningkat kariernya dan sampai ke puncak. Perawannya seharga setengah juta rupiah, kemudian mulai dinas dan harganya jadi 600 ribu rupiah, terus meningkat sampai sejuta, dua juta, tiga juta.
Tidak ada pelacur yang makin lama makin cantik, makin seksi, makin senok bahenol, makin segar, makin semlohay dan makin nggojos markojos. Sebagaimana semua makhluk, jasmaniyahnya diikat oleh hukum keausan. Makin lama makin aus, keriput, melorot, tua, karena gardu terdekat masa depannya adalah kematian.

Maka, harus diendapkan kedalam irama syahdunya yang meluruh bersama jalan menuju Tuhan. Agar setiap tuna susila kita pandu bersama untuk memiliki pengetahuan masa depan tentang dirinya sendiri. Sampai berapa tahun lagi ia akan bisa bertahan. Kemudian, bersikap tegas dan realistis bahwa sekian tahun lagi dia, mau tidak mau, sudah harus berhenti. Untuk itu, sejak sekarang ia perlu mempersiapkan
keterampilan untuk kelak menggantikan pekerjaannya yang sekarang, bisa dibekali apa saja bisa menjahit, melukis atau kaligrafi barangkali, tataboga salon at u apapun itulah. Pak Kiai, Pak Ustadz, Pak Pastor, Pak Pendeta, Pak lurah, dari Camat, semua pihak saeyeg saekoproyo (kompak ) mengantarkan para wanita itu mempersiapkan diri menuju masa depan yang realistis.

Ini berlaku tidak hanya untuk orang-orang yang melacurkan jasmaninya. Tetapi,juga berlaku untuk siapa saja yang menjual nilai, menjual demokrasi dan reformasi, menjual amanat rakyat, menjual kesucian tangan rakyat ketika mencoblos di Pemilu, menjual negara, menjual harga diri manusia. dan bangsa.

Para pelacur politik Indonesia hari-hari ini juga sedang memasuki salah satu fase puncak keausan dan pengausan. Siapa saja yang terkoptasi dan terkontaminasi segera akan menjumpai dirinya aus sebentar lagi.
Nabi Yunus As, bisa keluar dari perut ikan hiu setelah ia memanjatkan doa pada Allah. 

"LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN
(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungghnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). 

Marilah kita bersama 2 membaca doa itu seperti saat Dzun Nun (Nabi Yunus as.) berada di perut hiu itu, agar para sahabat , teman dan saudara kita yang hidup terjerembab dalam perut sistem negara yang amburadul ini terbebas dari itu semua. Sesungguhnya lokalisasi sama saja dengan perut ikan hiu.
Close Menu