Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Eksistensi Kaligrafi

Assiry gombal mukiyo, 29 November 2014

Masa pembaharuan dan latar belakang diturunkannya ayat-ayat pena (QS. Al ‘alaq : 1-5) di awal kenabian Muhammad SAW adalah awal peradaban yang cerdas dengan ditandai lahirnya risalah islam dengan perintah Allah untuk membaca dan menulis. Kita bisa belajar banyak, bahwa ditinjau dari segi yuridis pun kewajiban mempelajari ilmu baca tulis mendapat penekanan lebih. Islam lebih memberikan prioritas utama pada shalat, sebagai ibadah pokok yang menjadi tiang agama. Oleh karena itu, keselamatan seorang muslim atau kecelakaannya di akhirat, sangat ditentukan oleh bagaimana cara dia memelihara shalatnya. Namun, perintah shalat datang kemudian dan terlampaui oleh ayat-ayat pena. Mengapa demikian?

Kita telah berada dalam kajian asbabul nuzul yang menarik. Muhammad SAW menerima wahyu pertama, justru tentang perintah membaca dan menulis, tidak lepas dari latar belakang bangsa arab yang akan jadi sasaran dakwahnya. Bangasa arab pada umumnya, sebelum kedatangan islam, dikenal buta aksara, bahkan dari satu sisi, “anti huruf”. Tapi julukan "Jahiliyyah" yang disematkan kepada Bangsa arab bukan karena mereka bodoh, bukan juga karena mereka oon bin bahlul melainkan perilaku mereka sungguh sudah jauh dari nilai-nilai agama dan moral. Sehingga mengesampingkan nurani dan akal sehat. Contoh yang berlaku pada waktu islam belum ada mereka tega mengubur hidup -hidup bayi perempuan karena dianggap sebagai aib jika memiliki anak perempuan. Hal ini pun pernah dilakukan Sahabat Umar Bin Khattab kepada putrinya sebelum memeluk islam.

Islam membawa perubahan besar dengan mengangkat derajat perempuan.Meskipun orang-orang arab dikenal sebagai bangsa penyair, namun tulisan mereka tidak termasuk ranking tulisan adiluhung yang menyamai tulisan-tulisan besar dunia seperti hieroglipt (mesir), devenagari (india), kaminomoji (jepang), azteka (Indian), huruf paku (assiria), romawi, cina dan lain-lain.

Tradisi “mulut ke mulut” dalam menyampaikan pesan atau menalar syair dan menghapal silsilah, menyusutkan hasrat orang arab mengangkat tulisan mereka ke tingkat presisi yang tinggi, dan jenjang kelasnya dengan puisi yang mereka agungkan tidak seimbang.

Bagi bangsa arab, dalam kondisi lalai seperti itu, kehadiran ayat-ayat pena ini adalah bom. Bagi kita kaum muslimin, wahyu permulaan ini mengisyaratkan tentang kewajiban membaca dan menulis yang mendominasi tempat tertua dalam literasi hukum islam. Pena dan tulisan berhubungan erat dengan bidang keilmuan. Lebih dari sekedar persekutuan semangat mencipta dan rasa keindahan bagi pelukis, isyarat “bi Al Qalam” (dengan pena) dalam firman Allah tidak selalu mengandung satu dimensi makna, yakni pena biasa untuk menulis atau kuas untuk melukis, seperti yang umum kita pahami selama ini. Saya menerjemahkan "bi Al Qalam" dalam konteks kekinian dengan “perabot multi media” yang lebih luas, mencakup radio, televise, telepon, telegraph, teleks, facsimile, computer dan seterusnya tidak hanya terbatas pada pena.

Mengapa kita musti mengetahui dasar-dasar pemikiran yang terkandung dalam filosof kaligrafi islam, tiada lain untuk mengembalikan kontrol kita pada tujuan-tujuan awal kehadirannya sebagaimana dituntunkan Al Quran. Moral Al Quran hendaknya memberikan sentuhan kolasi pada kanvas, kayu, kaca, keramik, tunggul, karpet, gelas, piala, kertas, tembaga, plaster, kulit, tanah dan batu. Al Quran adalah sumber segala inspirasi dan dapat dijadikan ajang perburuan kreasi yang tiada habis-habisnya.

Sangat menarik menyusuri sejarah lebih lanjut, bagaimana Al Quran sanggup melakukan pendobrakan dan transformasi budaya, mengubah substansi sesuatu yang mapan menjadi bentuk baru yang memiliki dinamik seperti tulisan arab. Lebih 1000 tahun sebelum islam, perjalanan kaligrafi arab sangat tesendat, dan tidak melahirkan keanekaan ranting-ranting yang kukuh. Hanya beberapa puluh tahun sesudah islam, terjadi perkembangan besar. Akar-akar tulisan pecah menjadi lebih 400 aliran.

Mungkin, berkat fadhilah yang diberikan kepada seni kaligrafi ini, kaligrafi besar yaqut al musta’shimi (w.698 H/1298 M) mengibaratkan kaligrafi sebagai arsitektur ruhani yang diekspresikan lewat medium jasmani (alkhattu handasatun ruhaniyatun, dzaharat bialatin jismaniyah). Siloka ini oleh M. Ugur Derman dalam jurnal art and the Islamic world volume 4, 1987, dibahasa inggriskan menjadi “calligraphy is a spiritual geometry brought about with materials tools,” (kaligrafi adalah suatu ilmu ukur spiritual yang menghasilkan perabot kebendaan). Selanjutnya, kata-kata ini dijadikan definisi yang diakui banyak pihak.

Penekanan yang jadi pusat perhatian kita adalah, bagaimana pengaruh yang dipantulkan wahyu permulaan Al Quran punya bias begitu besar. Namun, kita juga masih perlu mengkaji ayat-ayat lain dan beberapa hadits nabi SAW yang mendorong reformasi kaligrafi arab begitu cepat, dinamis dan bergemuruh. Satu diantara ayat al quran yang jadi simbol “kekuatan magis” itu adalah yang pertama dari surat Al qalam, “nun, wal qalami wama yasthurun,“ (nun, perhatikanlah qalam dan apa saja yang mereka goreskan).

Penafsiran yang lebih akrab kepada pemahaman kita, dalam kata nun yang kontroversil, adalah yang berdasar kepada riwayat ibnu abbas, diikuti penafsiran ini oleh al dahhak, al hasan dan qatadah, bahwa “arti nun adalah dawat atau tinta,” parallel dengan hadits keluaran abu hatim riwayat abu hurairah, dimana nabi SAW mengatakan : “Allah menciptakan nun, yakni dawat.”

Para pelukis dan khattat segera menangkap objek isyarat ayat al quran dan qaul nabi itu. Isyarat itu cukup menantang, dan para seniman menjawabnya lewat olah bentuk dan konsepsi penciptaannya. Lukisan-lukisan indah lahir melalui keragaman gaya dan pesona visualnya. Lagipula, para seniman kaligrafi leluasa bergerak, karena tidak menemukan hambatan psikis yang mengacu pada kata haram atau pamali, seperti yang dikenakan pada karya-karya seniman patung, tari dan nyanyi yang oleh nabi pernah dicap malahi karena mudah terpesona obyek syirik dan hura-hura. Nabi mengatakan, “tulisan bagus akan membuat kebenaran tampak nyata, karena keunggulan.” Tetapi, inilah kata-katanya yang “memanjakan“ para seniman kaligrafi : “barang siapa meraut pena untuk menulis ilmu, maka Allah akan memberinya pohon di syurga yang lebih daripada dunia berikut seluruh isinya.” Dan, “barang siapa menulis bismillahir rahmanir rahim dengan khat yang indah, ia berhak masuk syurga tanpa hisab.”

Dengan menangkap getaran bunyi firman dan sabda itu saja, sang seniman dituntut mampu mengamalkan kekuatan imajinatif pribadinya. Dorongan-dorongan itu juga sudah cukup membuat semangat para khattat terdahulu lebih dari sekedar “binal” untuk membentuk kreasi-kreasi unggul. Uniknya, modal ini mendapat pembelaan di mana-mana, baik dari kalangan ulama maupun cendekiawan penguasa. Dalam berbagai siloka, seni kaligrafi dilukiskan sebagai kecantikan rasa, duta akal, penasihat fikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, pembicaraan jarak jauh, penyimpan rahasia dan khazanah berbagai masalah kehidupan.

Ringkasnya, “khat itu ibarat ruh di dalam tubuh,” seperti dikatakan sebagian ulama. Bukannya para khattat tidak tahu maksud yang diucapkan nabi ini : “hendaknya kalian mempercantik tulisan, karena dia itu adalah kunci-kunci rezeki.”

Semuanya menimbulkan daya tarik. Dan, bagi para kaligrafer, di sana terletak ilham untuk mencipta. Al Quran adalah mata rantai penghubung antara tulisan arab dengan dunia islam. Maka, menjaganya walau setitik kesalahan adalah wajib. Ketentuan ini berlaku, baik untuk memenuhi keperluan estetis maupun untuk keperluan fungisonal.

Kamil al baba mengajak kita untuk lebih bersungguh-sungguh menangkap fungsi-fungsi kaligrafi sebagai medium ekspresi. Ia mengingatkan sebuah “tragedi” di dunia arab, ketika tulisan tangan dioper fungsi oleh mesin ketik dan alat-alat cetak elektronika. Al baba hanya bisa mengingatkan, bahwa tulisan tangan masih diperlukan dan harus dilestarikan di tengah riuhnya iming-iming mesin tulis yang lebih simple dan asal pencet.
Di tanah air kita, mesin tulis arab belum jadi “ancaman”. Namun, diakui, kebiasaan menulis halus huruf arab yang dulu diajarkan di sekolah-sekolah dasar dan menengah kini menghilang dari jajaran kurikulum. Pengucilan jenis keilmuan dan keahlian dalam menulis kaligrafi terbukti berakibat bukan hanya jadi beban bagi pembaca, tetapi sering juga menghambat kelancaran membaca. Tulisan jelek, apalagi yang tidak mengikuti aturan yang betul, dapat memupus gairah membaca tulisan -tulisan arab maupun kitab di pelajaran -pelajaran sekolah atau pesantren.

Usaha LPTQ Pusat, memasukkan seni menulis khat indah Al Quran ke dalam MTQ, memang, merangsang gairah kalangan muda mempelajari kaligrafi arab di mana-mana meskipun belum bisa banyak berbuat untuk sejajar dengan para Kaligrafer di Timteng.. Beberapa sekolah mengisi rubrik kegiatan ekstra kurikulernya dengan pelajaran ketrampilan kaligrafi. Ini artinya peluang untuk secara resmi memasukkan kembali seni menulis indah huruh arab atau Al Quran ke dalam sekolah terbuka lebar.Didukung juga dengan semakin maraknya berdiri sanggar -sanggar Kaligrafi dan Pesantren Kaligrafi di Indonesia.Salah satunya adalah Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Al Quran PSKQ Modern ( Islamic Boarding School Of Art and Quran Calligraphy).

Fokus utamanya bukan hanya kepada kajian Kaligrafi seperti yang ada di Indonesia kebanyakan juga di Temteng tapi juga melukis dan mengaplikasikan lngsung pada pelbagai media dan bahan dengan terjun langsung di lapangan. Tentu semua perlu proses panjang bsgi seorang santri agar bisa menguasai kaligrafi dan Seni Rupa yang banyak cabang seninya.

Di luar pembicaraan kita tentang “keleluasaan” berekspresi, bagi kalangan dasar yang baru mulai, pelajaran menulis kaligrafi hendaknya diberikan dari tingkat dasar bisa dimulai dari Riqa atau naskhi dari huruf perhuruf, ditingkatkan kepada cara-cara merangkai kata perkata sampai kalimat perkalimat. Metode ini lebih betul, sebab, dengan membiarkan mereka bebas tanpa ikatan, bukan saja merusak kualitas tulisan, tetapi jika objek torehannya ayat-ayat suci Al Quran, maka kekeliruan akan bergerak kepada konsekuensi yang lebih berat lagi, yaitu perubahan-perubahan makna yang dikandung ayat-ayat suci tersebut karena kesalahan dalam penulisan.
Close Menu