Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Menjadi Diri Sendiri

Assiry gombal mukiyo, 17 November 2014


Saya mengibaratkan diri saya seperti alat musik, apabila dipetik untuk nada “Do” maka ia akan berbunyi “Do” bukan “Re”. Begitu juga jika tidak ada yang membunyikan, maka saya tidak akan berbunyi. Dalam kehidupan sehari-hari saya sangat ingin simpel, apa yang saya suka maka saya pakai, dan saya lakukan.


Saya sering berbeda dari orang kebanyakan. Dalam pencarian kesejatian hidup saya sering bertanya kepada diri saya “Apakah berdosa apabila saya tampil berbeda?” Saya hanya ingin berpakaian apa yang saya senangi. Misalnya kalau kebanyakan orang memakai celana dalam biar nyaman saya justru kalau memakai CD malah tidak nyaman. Pokoknya saya ingin berbuat sesuai apa yang saya kehendaki dalam hati saya. Pilihan saya sangat jelas. Waktu kecil saya mengakui hampir tidak pernah mengenakan seragam ketika bersekolah. Saya hanya ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa menjadi orang yang merdeka itu sangat enak sekali. Menjadi diri sendiri itu sangat enak sekali, tidak perlu modal, tidak perlu latihan, hanya mengalir saja.

Menjadi diri sendiri dan tidak ingin seragam dengan orang lain itu karena common mindset.
Saya malahan tidak ingin dikenal sebagai orang Islam, jadi kalau kolom agama di KTP bisa diganti saya ingin tulis agama saya gatholoco, Wirosableng 212, atau kejawen yang penting bukan islam. kadang bila keluar rumah saya juga bebas tidak pernah memakai simbol 2 pakaian keislaman saya, seperti peci atau sorban dan apalah itu. Karena, saya "malu" jadi orang Islam, banyak umat Islam yang betul-betul tidak ngerti Islam, mereka banyak yang berpakaian, berkata tentang Islam, padahal sesungguhnya belum. Jadi saya malu, makanya saya lebih baik menyembunyikan diri, biar hanya saya dan Tuhan saja yang tahu. Bahkan kalo perlu yang sampeyan tahu, guru saya adalah iblis. Saya punya guru yang hebat, iblis. Dan iblis itu ternyata cerdas sekali, lebih cerdas dari Jibril.

Perjalanan hidup itu, panjang atau pendek hanya masalah nilai. Perjalanan kita hanya akan mengalami dua langkah tapi kadang-kadang orang-orang hanya merasa perjalanan hanya satu langkah. Orang hanya merasa perjalanan hanya satu langkah menuju langit, seolah-olah langit adalah tujuan akhir. Itu yang hampir semua agama mengajarkan kita untuk mencapai langit, bagi saya itu baru setengah langkah atau baru satu langkah. Perjalanan kita dua langkah, pertama memang kita harus mencapai langit, mencapai puncak. Di sana kita harus mencapai yang namanya percaya kepada Tuhan. Setelah di atas, maka perjalanan selanjutnya adalah, turun mencapai bumi kembali. Maka ketika turun kita harus punya keyakinan yang lebih tinggi, yang disebut percaya diri. Ke langit kita percaya Tuhan, ke bumi kita percaya diri. Percaya diri berarti Tuhan ada di dalam diri kita.

Ada seorang Ulama nyentrik yang berhasil menghindarkan ummatnya dari penasbihan Tuhan kepada dirinya. Ulama tersebut begitu dihormati oleh para santrinya, sebut saja Mbah Datuk Muhammad Syukran Undaan Lor Kudus, Jateng.

Mbah datuk begitu ditakdzimi oleh santrinya. Namun lambat laut Mbah Datuk khawatir jikalau dirinya menjadi pembatas antara santrinya dengan Allah ketika beribadah. Dengan cerdik Mbah Datuk kemudian melakukan hal-hal yang diluar kewajaran seperti; ketika santrinya berpuasa, ia tidak berpuasa. Atau ketika santrinya melaksanakan sholat jum’at, ia tidak melaksanakannya. Yang terjadi akhirnya ia ditinggalkan oleh santrinya. Namun dalam sudut pandang yang berbeda, Mbah Datuk tersebut berhasil menggagalkan dirinya menjadi penghalang hubungan santrinya dengan Tuhannya. Bukankah ini merupakan kesuksesan?
Beliau juga telah sukses menemukan kesejatian bahwa menguji dan menemukan kemurnian terhadap santri -santrinya bahwa yang hakiki itu Allah bukan dirinya.

Kita Jangan terlalu dini mengungkapkan kesimpulan sebelum melakukan analisa yang mendalam. Jangan menghakimi sebelum mengenali lebih dalam. Alam ini begitu luasnya dan Allah menciptakan makhluk yang bermacam-macam.

Close Menu