Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

MEMBACA APA SAJA

Assiry gombal mukiyo, 5 Januari 2014

Sejak kecil, Elon Musk suka membaca, membaca apa saja dari sains sampai novel dan komik Ribuan buku sudah dia baca, sampai perpustakaan kekurangan buku karena semua sudah dibacanya. Dengan kerja keras dan hobi membaca yang akut , kini dia mempunyai perusahaan roket luar angkasa, mobil listrik, dan solar panel. Bahkan menjadi ikon baru Silicon Valley melebihi ikon-ikon sebelumnya seperti Steve Jobs dan Bill Gates.

Saya sangat gemar membaca, sejak kecil sampai sekarang hiburan paling menyenangkan bagi saya selain melukis dan menorehkan kaligrafi adalah membaca. Semasa SMP sampai MAN (SMA), setiap istirahat sekolah dimana teman-teman lain pergi ke kantin, saya selalu pergi ke perpustakaan, membaca apapun yang menarik perhatian saya tak luput juga bacaan komik. Saya pun berteman baik dengan petugas perpustakaan yang biasanya kesepian karena memang jarang sekali perpustakaan dikunjungi siswa, salah satunya adalah Bu Fatima, seorang penjaga perpustakaan yang baik hati dan lucu, yang juga tahu bahwa saya sering bolos dari pelajaran untuk ngendon di perpustakaan. Waktu lulus MAN hobby sayapun berlanjut dengan sering ke Toko Hasan Putra alun -alun Kudus dengan pura -pura beli buku padahal cuma nongkrong untuk baca -baca buku maklum waktu itu masih kere alias tidak punya uang meskipun sekadar untuk beli buku bacaan.

Satu yang saya sukai waktu itu adalah buku sastra karya Cak Nun. Saya masih ingat betul judulnya yakni "Kado Muhammad" yang mempengaruhi banyak karya -karya tulisan dan juga antologi puisi yang saya rangkum 10 tahun silam meskipun sampai hari ini saya sangat malu untuk menerbitkannya. Atau buku -buku sejarah dan Seni yang sering saya lalap untuk mengenyangkan dahaga akan pengetahuan yang lebih dalam.
Tentu saya tidak secerdas Elon Musk yang ingat hampir segala yang dia baca karena dia punya photographic memory, apalagi akses buku-buku yang dia punya sejak kecil jauh lebih bagus. Itu mengingatkan betapa pentingnya membaca dan akses buku-buku berkualitas terhadap perkembangan pikiran seseorang.

Di jaman internet ini, membaca bahkan jauh lebih mudah daripada dulu, pikiran saya menjadi terbuka lebar-lebar juga ketika akses-akses buku online ini terpampang di hadapan saya. Apapun yang anda mau baca ada disana, jutaan buku menunggu dieksplorasi oleh keingintahuan manusia.

Di hadapan buku-buku itu, saya seperti seorang anak kecil di pinggir pantai di hadapan samudera maha luas yang membentang di depan saya. Seberapapun ilmu saya, masih banyak ilmu-ilmu baru yang perlu dipelajari.
Dan dengan membaca, kita dipaksa untuk berpikir, tentang kenyataan-kenyataan, tentang kompleksitas semesta, tentang konstelasi neuron-neuron peradaban. Dan berpikir adalah langkah pertama manusia untuk maju ke depan.

Illustrasi:
-Tampak santri PSKQ Modern Muhammad Kholif sedang membaca buku Sastra di "Serambi Gallery Buku" PSKQ Modern asrama 1.
Close Menu