Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

SEJARAH LAHIRNYA KALIGRAFI ISLAM

Assiry gombal mukiyo, 16 April 2015

Al Qur'an selalu memainkan peranan utama dalam perkembangan tulisan Arab. Keperluan untuk merakam al-Qur'an memaksa memperbaharui tulisan mereka dan memperindahnya sehingga ia pantas menjadi wahyu Ilahi. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa Arab dengan perantaraan malaikat Jibril. Baginda menerima wahyu dan menyiarkannya sampai wafat pada tahun 632 M, sesudah itu wahyu tidak turun lagi dan penyebarannya dari orang mukmin yang satu kepada yang lain secara lisan oleh para Huffaz (mereka yang hafal al-Qur'an dan dapat membaca dalam hati).

Pada tahun 633, tidak sedikit huffaz ini terbunuh dalam peperangan yang timbul setelah wafatnya Nabi. Ini memberikan peringatan kepada kaum Muslimin, khususnya Umar bin Khatab. Umar mendesak Khalifah pertama Abu Bakar supaya mengerjakan penulisan al-Qur'an.

Kemudian juru tulis Nabi, Zayd bin Thabit diperintahkan menyusun "suhuf" Al Quran  dan mengumpulkannya kedalam sebuah kitab, yang kemudian ditetapkan oleh Khalifah ketiga, Usman, pada tahun 651. Penyusunan yang disucikan ini kemudian disalin ke dalam empat atau lima edisi yang serupa dan dikirim ke wilayah-wilayah Islam yang penting untuk digunakan sebagai naskah kitab yang baku.

Abad ke-13, di mana bersama Yaqut, adalah abad kehancuran dan pembangunan kembali di negeri Islam Timur. Penghancuran tu terjadi akibat serbuan Jengis Khan (1155-1227) dan pasukan Mongolnya, dan memuncak dengan ditaklukannya Bagdad oleh putranya Hulagu pada tahun 1258 dan kejatuhan terakhir kekhalifahan Abbasiyyah.

Pembangunan kembali hampir secara langsung oleh pemantapan kekuasaan Mongol, dan putera Hulagu, Abaga (1265-82), adalah penguasa pertama yang memberikan gelas Il- Khan (penguasa Suku) bagi dinasti baru tersebut.

Adalah sangat menakjubkan bahwa Islam mampu bangkit setelah dihancurkan sedemikian rupa. Bangkit kembali dan meneruskan vitalitasnya yg tak pernah berkurang. Kurang dari setengah abad setelah kehancuran Bagdad, Islam memperoleh kemenangan atas penakluknya yang kejam dan kafir, sebab, tidak hanya buyut Hulagu, Ghazan (1295-1305) memeluk Islam, melainkan dia juga yang menjadikan Islam sebagai agama resmi seluruh negeri yang diperintahnya.

Ghazan menjadi seorang Muslim yang terpelajar, teguh dan membaktikan sebagian besar hidupnya demi kebesaran Islam dan kebangkitan kembali kebudayaannya. Dia memberikan dorongan yang amat besar terhadap seni Islam, termasuk kaligrafi dan penyalinan buku.

Tradisi ini dilanjutkan oleh saudara dan penggantinya Uljaytu (1306-16), yang pemerintahannya berlimpah dengan kebesaran seni dan kemajuan sastra. Dia beruntung memiliki menteri dua tokoh yang berpikiran terang, Rashid al-Din dan Sa'd al-Din, yang mendorong dia melindungi kaum terpelajar, para seniman dan ahli kaligrafi.

Di bawah kekuasaannya, seni kaligrafi dan penerangan Il-Khan itu mencapai puncaknya, sebagaimana dapat dilihat dari salinan al-Quran yang sangat indah dalam tulisan Rayhani yang ditulis atas perintah Uljaytu dan disalin serta diulang kembali pada tahun 1313 oleh Abd Allah ibn Muhammad al-Hamadani.

Pendekar kaligrafi yang lain pada masa awal dinasti Il-Khan, yang dibimbing oleh Yaqut, adalah Ahmad al-Suhrawardi, yang meninggalkan untuk kita salinan al-Qur'an dalam tulisan Muhaqqaq tahun 1304. Yaqut menarik perhatian sejumlah besar muridnya, tidak hanya karena berusaha menyainginya namun juga bangga menghadiahkan karya mereka kepadanya; yang menolong mengabadikan kemasyurannya.

Uljaytu diikuti oleh putranya, Abu Sa'id (1316-34), yang ketika berkuasa, kemerosotan politik mulai berlangsung. Tetapi kehidupan budaya memuncak, termasuk seni kaligrafi, walaupun tidak berlangsung lama. Kemajuan ini khususnya karena sebagian besar murid Yaqut tumbuh pada masa ini. Di antara mereka yang menjadi pendekar kaligrafi yang mandiri, melengkapi pendekar yang baru kita sebut, adalah Mubarak Shah al-Qutb (w.1311), Sayyii Haydar (w. 1325), Mubarak Shah al-Suyufi (w. 1334), Abd Allah al-Sayrafi (w. 1338) yang meninggalkan untuk kita sebuah kaligrafi yang indah ditandatangani sekitar tahun 1323, juga Abd Allah Arghun (w. 1341) da. Yahya I-Jamali I-Sufi.

Untungnya al-Sufi meninggalkan kepada kita sebuah salinan aI-Quran yang indah dalam tulisan emas Muhaqqaq dengan huruf hidup biru, berangka tahun 1345, sebagai monumen bagi keahliannya di bidang seni kaligrafi.

Tokoh lain adalah Muhammad ibn Yusuf al-Abari, yang meninggalka untuk kita salinan al-Qur'an dalam tulisan Thuluth yang mendekati tulisan Rayhani, yang cukup menarik perhatian.

Dinasti Il-Khan bertahan sampai akhir abad ke-14, kemudian digantikan oleh dinasti Timurid, yang didirikan oleh Timur yang agung, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Tamerlane (w. 1405). Meskipun dia dikenal dunia karen kejahatannya sebagai penguasa besar yang lalim, tetapi dalam hidupnya dikemudiari hari setelah memeluk Islam dia sering mengumpulkan para seniman terbaik, terpelajar, pelukis dan para ahli kaligrafi di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya, dan membawa mereka ke ibukota, Samarkand.

Timurid memberikan perhatian istimewa terhadap seni kaligrafi, dan secara langsung bertanggungjawab atas terciptanya gaya baru penulisan al Qur'an yang sesudah wafatnya disebut menurut namanya, dan menggantikan gaya dinasti Il-Khanid Mongol yang awal.Berbeda dengan gaya Il-Khanid, yg mencapai kemegahan dengan salinan al-Quran besar dalam tulisan monumental yang berpola megah dan geometris, gaya Timurid bertujuan menciptakan keseimbangan antara keindahan dan kemegahan dengan memadukan penulisan huruf yang jelas dalam kitab al-Qur'an besar dengan pola tumbuhan yang sungguh indah, mempesona, lembut pewarnaannya, terpadu dengan tulisan ornamental Kufi Timur yang begitu indah sehingga hampir tak ketara.

Untuk pemakaian tulisan besar, tulisan Rayhanilah yang dipilih secara tetap, dan keindahannya ditonjolkan dengan penulisan huruf hidupnya yang menggunakan pena yang 1ebih bagus dari pena biasa. Tulisan naskhi dipakai untuk halaman yang kurang lebar, namun memberikan kejelasan dan kemurnian garis yang lebih besar yang kemudian mempengaruhi Ta-liq Persia dan Naskhi India.

Walaupun praktek pemakaian bermacam gaya dan ukuran tulisan yang berbeda pada halaman yang sama mengulangi praktek yang berlaku di masa Ibn Muqlah, mungkin gaya Timur lenglah yang pertama kali memperluas pemakaiannya untuk penulisan al-Qur'an.

Sifat dan ciri tulisan masa Timur lengkhususnya tercermin sekali dalam kitab-kitab al-Qur'an besar, di antaranya adalah salinan paling besar yang pernah dihasillkan. Sebuah anekdot menarik yang menceritakan kecintaan Timurid kepada al-Qur'an besar adalah kisah 'Umar Aqta', orang yang diperintahkan Timur Leng menulis kitab al-Qur'an. Umar akhirnya mempersembahkan salinan al-Qur'an kepada Timur Leng dalam tulisan Ghubar, salinan itu sekecil cincin stempel.

Timur Leng menerima persembahan ini dengan sikap menghina oleh karena ukurannya yang kecil; sedang Umar meminta kembali al-Qur'an kecil itu tanpa rasa takut dan menyalin al-Qur'an lain dalam tulisan Tumar, tiap halaman hampir satu meter ukurannyaj dan oeh karena itu dia mendapatkan hadiah besar.Tradisi kaligrafi murni ini dilanjutkan oleh pengganti Timur Leng. Putranya, Shah Rukh (1405-47), adalah seorang Muslim taat yang menghargai kaligrafi sedemikian tinggi dan dialah yang memerintahkan penyalinan banyak kitab al Quran yang indah. Dia juga memiliki seorang putra yang sangat ahli di bidang ini. Salah satu dari sejumlah al-Qur'an dari masa pemerintahannya yang ada sekarang adalah buah tangan ahli kaligrafi Timurid terkemuka Muhammad al Tughra'i, disalin tahun 1408 dalam tulisan Muhaqqaq emas.Putra Shah Rukh, Ibrahim Sultan, menjadi salah seorang ahli kaligrafi terkemuka pada masa itu, spt terlihat dari al-Qur'an yang dia salin dalam tulisan Rayhani emas pada thn 1431. Putra Shah Rukh yag lain, Baysunghur (w. 1433) adalah tokoh budaya yang berbakat pada masa Timurid dan setaraf kedudukannya di antara para kolektor buku tingkat dunia.

Sepanjang hidupnya dia mengayomi seni dan pengkajian ilmu, menghimpun banyak seniman, ahli kaligrafi, penjulid buku & pelukis yang mengembangkan gaya yang indah dari produksi buku madzab Timurid, menonjol karena salinan al-Qur'annya yang indah dan berjilid-jilid ,salinan epik Persia yang mempesona, dengan lukisan miniatur dan hiasan lain yg bagus.

Pencinta buku lain adalah Sultan Husayn (w. 1506), yang dari istananya di Herrat lahir salinan-salinan al-Qur'an dalam gaya Timurid yang sangat indah. Antara para ahli kaligarafi hebat zaman Timurid yang paling berbakat, sebagai tambahan bagi nama-nama yang dah disebutkan, adalah Abd Allah ibn Mir Ali, Ja'far al-Tabrizi, Muhammad Mu'min ibn 'Abd Allah, Abd Allah al-Tabbakh & muridnya, Abd al-Haqq al-Sabzawari.

Kekhalifahan Mameluk, yang menegakkan dinastinya (1250-1517) terutama di Mesir dan Siria, memerintah untuk menyelamatkan wilayah Dar aI-Islam mereka dari kehancuranyang melanda provinsi-provinsi Timur, sehingga kelanjutan kehidupan budaya terpelihara. Apresiasi mereka yang tinggi terhadap seni Islam secara umum membuat mereka jadi pelindung seni kaligrafi hiasan al Quranan yang sangat gairah, yang memuncak hingga mencapai tingkat yang paling tinggi, menyaingi pencapaian dinasti Il-Khanid di Timur.

Malahan, sampaii sekarang pun banyak salinan al-Qur'an peninggalan dinasti Mameluk dipandang sebagai puncak karya kaligrafi yang tak pernah tertandingi.Sultan besar dinasti Mameluk yang pertama adalah Rukh al-Din Baybars I (1260-77). yang tersohor baik dalam peperangan maupun dalam perdamaian, dan pelindung besar seni. Baybars diikuti oleh sederet panjang sultan Mameluk, yang paling besar adalah Qalawun (1279-90) dan putranya, aI-Nasir, yang memerintah dalam tiga masa antara 1293 dan 1340, al-Ashraf (1363-76) dan Barquq (1387-98).

Untungnya sejumlah salinan al-Qur'an zaman Mameluk yang terpandang sampai kepada kita. Ahli kaligrafi terbesar zaman Mameluk adalah Muhammad ibn al-Wahid, yang meninggalkan kepada kita salinan al-Qur'an yang unik dalam tulisan Thuluth, yang telah disinggung, disalin pada tahun 1304 untuk seorang pejabat tinggi Baybar, yang kemudian menjadi Sultan Baybar II (1308-09).

Tiga ahli kaligrafi yang tumbuh pada masa panjang pemerintahan aI-Nasir, dan meninggalkan kepada kita contoh karya sebagai bukti keahliannya yang hebat dalam kaligrafi, adalah Muhamad ibn Sulaiman al-Muhsini, Ahmad ibn Muhammad aI-Ansari dan Ibrahim ibn Muhammad al-Khabbaz. Abd aI-Rahman ibn al-Sayigh tersohor karena menyalin dalam tulisan Muhaqqaq kitab al-Qur'an yang dikenal paling besar dari zaman Mameluk, yang panjangnya lebih dari dua meter, dibuat hanya dengan menggunakan pena bambu dan ditulis dalam waktu singkat, enam puluh hari.

Al Qur'an ini, dengan hiasan yang mengagungkan, dibuat pada tahun 1397 untuk Sultan Barquq, yang setelah dia kekuasaan dinasti Mameluk mulai merosot. Sekalipun demikian, ukuran kaligrafi yang sangat tinggi tetap dipertahankan selama hampir satu abad kemudian, seperti dapat dilihat dari sebuah Qur'an lebar yang disiapkan untuk al-Malik al-Ashraf pada tahun 1496 oleh Shahin al-Inbitani, yang menyalinnya dalam tulisan Naskhi besar.Masa dinasti Mameluk adalah masa kemajuan kebudayaan yang luar biasa, dan para ahli umumnya sepakat bahwa kaligrafi Arab mencapai puncak kesempurnaannya di Mesir dan Siria pada abad pertama pemerintahan dinasti Mameluk. Sementara pandangan ini benar bagi seni kaligrafi dan hiasan al¬Qur'an zaman Mameluk, kemajuan itu juga tercermin dalam penggunaan bahan kaligrafi seperti logam, kaca, gading, kain, kayu dan batu.

Penggunaan kaligrafi yang luas ini, yang menarik perhatian karena cakupan dan bobotnya, membangkitkan lahirnya gaya Thuluth dan Naskhi khusus, yang selalu dikaitkan dengan masa ini.

Kemunduran dinasti Timurid, yang berlangsung sedemikian cepat menjelang abad ke-15, memberi peluang dinasti Safawi muncul di bawah pemimpin mereka yang energetik yang kemudian memperoleh gelar Shah Isma'il (1502-24). Dinasti Safawi yang bertahan sampai tahun 1736 adalah dinasti yang paling lama dan jaya yang memerintah Persia dan Iraq. Sekalipun selalu timbul pertentangan dengan musuh-musuhnya, namun dinasti Safawi berhasil antara kehidupan budaya Persia ke era baru, yang berpengaruh langsung kepada perkembangan seni Islam, tidak hanya dalam wilayah mereka, namun juga di wilayah kerajaan musuh mereka dinasti Usmaniyyah.

Perkembangan kaligrafi yang benar-benar penting terjadi pada masa kekuasaan Shah Isma'il dan penggantinya, Shah Tahmasp (1524-76). Di bawah dorongan merekalah tulisan Ta'liq dirumuskan dan dikembangkan menjadi tulisan yang digunakan penduduk negeri secara luas, yang kemudian mengarah ke perkembangan tulisan Nasta'liq.

Dari sudut luas pemakaiannya di kalangan bangsa Persia, Urdu dan yang berbahasa Turki, dan sumbangan penting mereka terhadap kaligrafi Islam pada umumnya, dua tulisan yang masih agak muda ini terangkat kedudukannya menjadi tulisan utama.

Tulisan Ta'liq (gantung), menurut beberapa sumber Arab, dikembangkan oleh orang Persia dari tulisan Arab awal yang kurang dikenal, Firamuz, suatu bentuk tulisan kursif yang sederhana yang dipakai sampai awal abad ke-9. Sekalipun demikian orang memandang bahwa tulisan Ta'Iiq bisa berkembang menjadi tulisan yang pasti setelah ditemukannya tulisan Riyasi pada abad ke-9.Perkembangannya khususnya dipengaruhi oleh tulisan Riqa' dan Ta'Yqi, sedikit banyak penyimpangannya dihubungkan langsung dengan dua tulisan ini oleh berapa sumber Persia, dan menganggap penemunya adalah Taj-i Salmani, seorang ahli kaligrafi dari Isfahan yang tidak begitu dikenal. Sekalipun demikian, ahlii kaligrafi Abd al-Hayy dari kota Astarabad yang tampaknya telah memainkan peranan lebih penting dalam perkembangannya awal. Dia didorong oleh pengayomnya, Shah Isma'il, untuk meletakkan aturan-aturan dasar tulisan Ta'liq, dan tidak saja mempopulerkan tulisan Ta'liq di kalangan orang Persia, Turki & India.

Para ahli kaligrafi Persia segera mengembangkan dari tulisan Ta'liq ke suatu ragam yang lebih terang dan indah, kemudian dikenal sebagai Nasta'liq, walau pun mereka terus memakai tulisan Ta'liq untuk naskah monumental dan peristiwa-peristiwa penting. Para ahli kaligrafi Turki, di lain hal, selama jangka waktu yang lama tetap mematuhi aturan-aturan dasar Ta'liq awal. Juga setelah enyerap banyak perubahan yang ditimbulkan oleh tulisan Nasta'liq, yang mereka terima sebagai perbaikan, orang Turki tetap mempertahankan nama Ta'liq untuk gaya itu.

Tulisan Nasta'liq (tersusun dad nama Naskh dan Ta'liq) harus dipandang sebagai suatu ragam gaya Ta'liq yang dikembangkan di akhir abad ke-15 oleh org Persia, dan menjadi tulisan Nasional mereka. Semua sumber penting sepakat bahwa ahli kaligrafi Persia Mir Ali Sultan al- Tabrizi (w. 1416) adalah pembangun tulisan ini dan berjasa merancang aturan-aturannya yang kompleks.

Menurut legenda, Mir Ali, sebagai seorang Muslim yang taat, rajin sembahyang seraya memohon diberi keahlian dalam menciptakan gaya kaligrafi baru yang indah. Imam Ali, sepupu Nabi dan Khalifah keempat, kepada siapa semua ahli kaligrafi Islam menghubungkan silsilahnya, muncul kepadanya dalam mimpi menyarankan kepadanya agar mempelajari burung tertentu. Segera sesudah itu di dalam mimpinya dia dikunjungi oleh burung meliwis yang terbang, dan bentuk sayap burung itulah yang mengilhami model huruf-hurufnya.

Legenda mengenai garis tebal dan jelas tulisan Nasta'liq dan lengkungan bulatnya g sempurna diilhami oleh seekor burung yang sedang terbang. Kejelasan kemurnian geometrisnya secara terpadu memberikan kepada tulisan sra'liq keindahan yang tampak secara sepintas bertentangan dengan aturannya yang sangat rumit dan ketat dalam penerapannya.Ada ciri umum tertentu di dalam tulisan Ta'liq, Nasta'liq dan Riqa'. Di atrnya adalah kenisbian tinggi ujungnya, Asnan (gigi), pada garis horisontal huruf tertentu seperti s dan sh, yang kerap mengisi pusat kelukan sebagian huruf, dan ujung dari sebagian besar huruf yang tidak berhubungan sangat tipis dan garis-garisnya runcing.

Ciri umum lain adalah bahwa lengkungan ciptakan perbedaan yang menyolok dalam lebar garisnya, yang berubah tiba-tiba dari garis sangat besar ke garis paling tipis yang digores dengan pena yang sarna.
Pada masa kekuasaan Shab Tahmasp (1524-76), tulisan Nasta'liq menggantikan tulisan Naskhi, dan menjadi tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin antologi, epik dan karya sastra Persia yang lain. Semenjak pemerintahan Shah Abbas (1588-1629) yang agung ia dipakai untuk sebagian dr penulisan naskah keduniawiaan Persia, khususnya naskah yang dihiasi lukisan miniatur.

Walaupun ia sedikit sekali digunakan oleh bangsa-bangsa yang lain, ia memiliki pengaruh besar atas perkembangan seni kaligrafi mereka secara umum dan pada tulisan Naskhi pada khususnya. Baik para ahli kaligrafi Arab maupun Turki di lingkungan kekhalifahan Usmaniyyah, mengembangkan gaya campuran baru dari tulisan naskhi kecil yang mirip tulisan yang secara sederhana disebut tulisan Naskhi Usmaniyyah, dan yang kerap dipakai utk menulis dan menyalin hasil-hasil karya sastra yang melimpah pd masa itu.Tulisan Ta'liq dan Nasta'liq jarang dipakai untuk penyalinan al-Qur'an, & sejauh yang dikenal, hanya satu al-Qur'an besar ditulis dalam tulisan Nasta'liq. Salinan yang luar biasa indah ini, ditulis untuk Shah Tahmasp oleh Shah Mahmud al-Nishaburi dalam tahun 1539, membuktikan kejernihan kekuatan dan keindahan puncak yang dicapai oleh tulisan Nasta'liq.

Seolah-olah untuk membebaskan kejanggalan tulisan Nasta'liq dari kelompok huruf Qur'ani yang berpengaruh, dinasti Safawi berusaha menempatkan perannya dalam seni kaligrafi dan hias al-Qur'an periode ini memiliki ciri halaman khusus yang dibedakan dalam dua atau lebih pembagiar. yang terdiri dari huruf-huruf yang ukurannya sangat berbeda. Kerap pembagian ini sampai tujuh banyaknya, dengan bentuk vertikal yang dipakai untuk maksud hiasan yang menambah kekayaan hiasan yang telah ada.

Mir' 'Ali al- Tabrizi diikuti oleh sederet panjang ahli kaligrafi Muslim yang mengesankan, terutama ahli-ahli Persia, yang telah meninggalkan kepada kita contoh kaligrafi Nasta'liq yang berlimpah ruah. Di antara pendekar-pendekar awal tulisan ini yang perlu dibicarakan secara khusus adalah Abd al-Rahman al-Khawarizmi, seorang pelopor abad ke-15 yang mencapai kedudukan sangat tinggi. Dia diikuti dan disaingi oleh dua orang putranya, Abd al-Rahim Anisi dan Abd al-Karim Padshah.

Pemerintahan Shah Abbas yang agung di mana kebudayaan Persia mencapai puncak perkembangannya yang baru, juga merupakan zaman keemasan bagi tulisan Nasta'liq. Ia menghasilkan sejumlah besar pendekar kaligrafi, paling terkemuka di antaranya adalah Qasim Shadi, Shah Kabir ibn Uways al-Ardabili, Kamal aI-Din Hirati, Ghiyath aI-Din al-Isfahani; yang terakhir dan mungkin paling besar dari generasi ahli kaligrafi Persia ini adalah Imad al-Din al-Husayni.

Kehormatan yang dinikmati oleh para pendekar kaligrafi ini bisa digambarkan dengan anekdot bersejarah mengenai 'Imad al-Din, yang kedudukan sosialnya begitu tinggi sehingga dia berani menghina tawaran pengayoman dari Shah Abbas, dan menolak permintaannya untuk membuatkan salinan epik Persia, Shanamah karangan Firdausi.

Shah mengirim uang sedikit sebagai uang muka pesanannya pada tahun 1615, memeriksa buku itu setelah terlupa hampir setahun, tetapi Imad ai-Din menjawabnya dengan mengirimkan beberapa bab dari halaman pertama buku, yang menurut anggapannya cukup untuk mengimbangi pembayaran dari Shah. Ini membuat murka Shah' Abbas sehingga dia tak bisa memaafkan Imad al-Din, dan segera setelah itu mengirim si ahli kaligrafi ini ke akhirat.Kaligrafi Arab berkembang di India dan Afghanistan mengikuti garis yang jauh lebih tradisional. Sebuah tulisan kursif minor disebut tulisan Behari muncul di India pada abad ke-14, yang ciri utamanya adalah garis-garisnya lebar, tebal dan horisontal memanjang, yang sangat berlawanan dengan garis vertikalnya yang kecil dan mempesona.

Huruf-hurufnya mempunyai kerenggangan yang cukup baik dengan kembangan berupa lengkungan yang terbuka dan mudah dilafalkan, dan kerap ditulis dengan warna yang aneka ragam, terutama hitam dengan emas, merah dan biru.

Sekalipun lekuknya jelas, namun tulisan ini!, memiliki persenyawaan dengan tulisan yang lebih menyudut yang dikembangkan di Herat Pada awal abad ke-14 sebagai kebangkitan kembali huruf Kufi baku yang kaku, dan kita bisa menyebutnya Kufi-Herat. Tulisan ini, yang dipakai di Afghanistan juga mempengaruhi perkembangan tulisan Siyaqat dinasti Usmaniyyah yang akan diuraikan di bawah ini.

Berjuta-juta Muslim Cina yang memakai tulisan Arab, setidak-tidaknya untuk tujuan pengajian agama, biasanya mengambil gaya kaligrafi yang dewasa itu berkembang di Afghanistan, dengan sedikit perubahan. Dengan tambahan mereka lambat laun mengembangkan tulisan khusus yang disebut tulisan Sinii (Cina) dengan garis yang sangat indah dan bulatan besar, kebanyakan dipakai pada keramik dan tembikar Cina.
Gaya ornamental yang sebenarnya berasal dari tulisan Sini, dengan mempertahankan kebulatannya, namun mudah dibedakan dengan garis-garis vertikalnya yang sangat tebal dan hampir segi tiga dibandingkan dengan garis-garis horisontalnya yang tipis.

Secara keseluruhan, ahli kaligrafi di India maupun Afghanistan secara langsung dipengaruhi oleh ahli kaiigrafi Persia. Kaum Muslimin India mengambil tulisan Nasta'liq sebagai tulisan nasional dan memakainya untuk tulisan Urdu. Namun di Afghanistan dan bagian-bagian tertentu anak benua India, tulisan Naskhi yang sedikit mengalami perkembangan terus dipakai. Ciri utama yg bisa diistilahkan sebagai tulisan Naskhi India, terletak pada huruf2nya yang lebih berat, tebal dan lebih renggang jaraknya. Lengkungannya hampir sepenuhnya bulat, memberikan kepadanya kekukuhan yang tidak terdapat pada tulisan Naskhi yang lazim.Tulisan Thuluth berkembang sepanjang garis yang sama, dan karenanya ia disebut sebagai Thuluth India. Perkembangan sepenuhnya dikukuhkan di bawah dinasti Mongol (1526-1857) yang memerintah India dan Afghanistan.
Kaligrafi khususnya dijunjung tinggi oleh kaiar Mongol, Babur (w. 1530), Akbar (1556-1605) dan Jahangir (1605-28). Nama yang terakhir ini sangat mengagumi dan memperhatikan karya kaligrafi Imad al-Din al-Husayni, sehingga dia akan membayar tinggi kepada orang yang mempersembahkan contoh hasil tangan ahli kaligrafi besar Persia ini.

Dinasti Usmaniyyah, yang memperoleh nama dari pendirinya, terhitung sejak abad ke-14 awal, namun kerajaannya tidak sepenuhnya mapan sampai mereka menaklukkan dinasti Mameluk pada tahun 1517, dan mewarisi wilayah mereka di Siria, Mesir dan Arabia. Segera setelah itu, mereka mampu menyatukan seluruh dunia Arab ke dalam kerajaannya.

lni mengakhiri lembaran kejaiayaan kaligrafi Mameluk dan membuka sebuah kaligrafi baru dan mungkin yang terakhir dalam sejarah kaligrafi Islam. 0leh karena itu dari masa ini sampai akhir, sejarah seni Islam terkait dengan dinasti Usmaniyyah Turki. Ini juga berlaku pada seni kaligrafi, yang oleh dinasti Usmaniyyah dipadukan dan digerakkan agar berkembang dengan kegairahan dan imaginasi yang luas biasa.

Mereka menjadi tersohor karena kecintaannya terhadap kaligrafi, dan tanpa terpengaruh oleh pertikaian dengan musuh bebuyutan mereka di Persia mereka tetap mengagumi tradisi kaligrafi Persia dan memberlakukan tulisan Ta'liq ke dalam bahasa mereka. Hubungan yang rapat ini meluas ke bidang seni kaligrafi, tulisan buku dan penjlidan sehingga dengan peristiwa itu sangatlah sukar dikatakan dengan pasti apakah sebuah naskah dibuat di Persia atau di Turki.

Dinasti Usmaniyyah tidak saja menerima sebagian besar kaligrafi mutakhir Persia & ahli dlm bidang itu, narnun mereka juga mengembangkan beberapa gaya baru dan benar-benar asli. Mereka menghargai tinggi kaligrafi Arab, dan merasakan kesuciannya yang sangat mendalam. Ini tercermin dalam sejumlah besar naskah al-Qur'an yang berhias yang mereka hasilkan, dalam penggunaan tulisan ornamental yang melimpah di mesjid-mesjid, sekolah-sekolah dan gedung umum, dan dalam ribuan naskah kaligrafi karya keduniawian yg masih terdapat di Turki dan di tempat-tempat lain.Sumbangan terbesar bagi kaligrafi Islam adalah sumbangan dari Syaikh Hamdullah al-Amasi (w. 1520), yang dipandang sebagai pendekar kaligrafi terbesar sepanjang masa dinasti Usmaniyyah. Dia mengajar kaligrafi kepada Sultan Usmaniyyah Bayazid II (1481-1520) yang sangat menghormatinya dan membayarnya mahal untuk setiap tinta yang mengalir, sementara Syaikh menulis kalimat-kalimatnya.

Dari banyak murid berbakat Syaikh Hamdullah yang paling terkenal adalah Ahmad Qarahisari (w. 1555), yang meninggalkan kepada kita banyak contoh karya kaligrafinya. Sudah menjadi tradisi di kalangan sultan dinasti Usmaniyyah utk mengayomi para ahli kaligrafi yang baik dari masa mereka. Ini mendorong membanngkitnya sejumlah besar ahli kaligrafi pilihan, yang sebagian besar layak dipelajari secara terperinci.
Namun di sini kita akan membicarakan 'Uthman ibn 'Ali, yang 1ebih dikenal sebagai Hafiz 'Uthman (w. 1698), yang tingkatnya hanya nomor dua di bawah Hamdullah, dan keduanya memimpin deretan ahli kaligrafi terkemuka. Malahan, semua ahli kaligrafi Turki mencoba menghubungkan rantai silsilah keahliannya kepada mereka, dan menghormati mereka sedemikian tinggi.

Perkembangan lebih lanjut ten tang kaligrafi di Turki dan temp at lain terdorong terciptanya sejumlah tulisan turunan yang disesuaikan dengan keperluan, dan juga melahirkan penemuan2 aligrafi yg luar biasa, yang secara keseluruhan ornamental dan terutama dirancang agar menyenangkan atau memberi kesan menarik.Yang paling penting di antara gaya-gaya turunan itu ialah Shikasteh, Shikasteh-amiz, Divani dan Jali. Shikasteh (bentuk patah) dan tulisan ornamental kelompok Shikasteh-amiz adalah perkembangan tulisan Persia yang bertalian langsung dengan tulisan Ta'liq dan Nasta'liq. Tulisah Shikasteh dikatakan sebagai dptaan sejumlah Shafi' dari herat. Walaupun demikian yang paling tersohor dari tulisan ini adalah Darwish 'Abd al-Majid Taliqani.

Sebagai tambahan untuk kerabat dekat tulisan Ta'liq awal, Shikasteh ditandai oleh kepadatannya yang luar biasa, sebagai akibat sambungan dan garis-garis vertikalnya yang sangat rendah dan miring, dan juga karena kurangnya tanda huruf hidup. Tulisan itu kebanyakan dipakai untuk surat-menyurat pribadi dan usaha, dan untuk tulisan tangan umum bagi bahasa Persia dan Urdu. Shikasteh-amiz sering dipakai di dalam kekanseliran dan usaha-usaha resmi serupa. Tulisan ini lebih besar dan kurang padu dibanding Shikasteh, dan biasanya ditulis pada kertas terang atau berwarna.

Tulisan Divani adalah perkembangan tulisan Usmaniyyah yang sejajar dengan Shikasteh, dan khususnya dikembangkan akhir abad ke-15 dari tulisan Ta'liq Turki oleh Ibrahim Munif. Kemudian ia disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah yang terkemuka, khususnya untuk dipakai di bidang kekanseliran. Tulisan ini benar-benar kursif dan bersusun-susun, dengan huruf tanpa titik dan di luar konvensi saling berpadu, dan juga tanpa tanda huruf hidup. Tulisan Divani juga mengembangkan ragam ornamental yang disebut Divani Jali, juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan).

Perkembangan tulisan Jali sepenuhnya dikatakan ditangani oleh Hafiz 'Uthman dan para muridnya, yang juga menerapkannya terhadap tulisan-tulisan utama yang lain, semata-mata untuk tujuan ornamental. Ciri utama tulisanJali adalah melimpahnya hiasannya dengan beragam tujuan dekoratif, yang tidak memerlukan nilai ejaan apa pun, sehingga secara keseluruhan merupakan kumpulan susunan yang padat, membentuk persegi panjang lurus atau melengkung atau bentuk-bentuk geometris lain.Seni menulis ukuran kedl, yang terutama didasarkan pada tulisan Ghubar, menjadi sangat populer di masa mutakhir. Para ahli kaligrafi modern menyusutkan tulisan Ghubar menjadi sedemikian kecil ukurannya, menuliskannya pada obyek yang tidak lebih besar dari sebutir beras. Naskah lengkap al-Qur'an, yang secara pasti terdiri dari 77,934 kata, telah ditulis pada sebuah kulit telor ayam, dan terakhir sekali pada selembar kertas berukuran tidak lebih dari 55 sampai 45 sentimeter.

Al-Qur'an lengkap yang tidak lebih besar dari ibu jari dipakai sebagai jimat oleh orang Islam yang tak terhitung jumlahnya. Jika para ahli kaligrafi paling terkemuka di bidang ini adalah Isma'il ibn 'Abd Allah, yang lebih dikenal sebagai Ibn al-Zamakjali (w. 1386) dan Qasim Ghubari (w. 1624), maka para seniman abad ke-20 juga telah meneapai puncak keahlian itu, termasuk Hasan 'Abd al-Jawad dari Mesir, yang menulis tiga surah dari AI-Qur'an pada sebutir gandum; Nasib Makarim dari Libanon, penulis lagu kebangsaan negerinya yang terdiri dari 287 kata pada sebutir beras; dan Dawud al-Husayini dari Afghanistan, yang menulis 555 kata pada bidang yang tidak lebih besar dari satu inci bidang bujur sangkar.

Zulf-i 'arus (ikal rambut pengantin) adalah gaya yang agaknya berhubungan baik dengan tulisan Rayhani maupun Nasta'liq. Ia memiliki garis tebal yang ujungnya meliuk-liuk indah.

Gulzar adalah teknik mengisi bidang di dalam jenis besar huruf-huruf yang relatif besar dengan maksud memberikan ragam ornamental, termasuk desain tumbuh-tumbuhan, pola geometris, lukisan perburuan, gambar, tulisan kecil dan motif~motif lain.

Muthanna atau Aynali adalah seni tulisan pada kaca, di mana kesatuan di sisi kiri memantulkan kesatuan sisi kanan. Teknik ini juga dikenal sebagai Ma'kus (pantulan).Kaligrafi hewan, yang berasal dari abad ke-15 ,memperoleh daya tarik luas kelakangan ini. Sebagian besar menggunakan tulisan Thuluth, Naskhi, Ta'liq atau Nasta'liq, benar-benar diubah dan disimpangkan huruf-hurufnya untuk mendapatkan bentuk yang menyerupai binatang, burung dan lain sebagainya. Puncak huruf vertikal tertentu kadang diubah untuk membentuk garis besar figur manusia, sebuah antromorfisme yang diharamkan oleh sejumlah orang Islam.

Thugra Suatu rancangan kaligrafis yang khususnya dikenal sebagai lambang para sultan Usmaniyyah, berkat tangan generasi penerus kaligrafi berkembang mencapai puncak keindahan dan kerapian ornamentasinya. Perkembangan yang lebih modern disebut al-Khatt al-Sunbuli, sebuah tulisan yang bergaya sedemikian berbobot dan tinggi mutunya yang mungkin berasal terutama dari tulisan Divani. Meskipun ia benar-benar mempesona dan indah, sekarang tak luas pemakaiannya.

Tulisan modern lain yang berada dalam kelompok yang sama dengan suinbuli adalah Harf al-Nar, yang memiliki ciri tambahan, sebagaimana namanya menunjukkan, yaitu ujung-ujungnya menyerupai lidah api.
Siyagat adakah tulisan fungsional yang dikembangkan oleh sultan-sultan Umaniyyah untuk keperluan kantor pemerintahan, khususnya yang bertalian dengan lisensi dan dokumen serupa yang berhubungan dengan masalah perdagangan dan keuangan. Ciri garis-garisnya lurus dan berat dan garisnya . lng agak menyudut, yang menghubungkannya dengan tulisan Kufi-Herat, digunakan di Afghanistan dan bagian-bagian tertentu India.

Huruf al-Taj (huruf mahkota) mungkin merupakan tulisan yang paling modern di antara semua. Ia dikembangkan di Mesir pada tahun 1930 oleh Muhammad Mahfuz untuk Raja Fu'ad I, yang ingin mengantarkan penggunaan huruf besar ke dalam bahasa Arab. Sebegitu jauh, sekalipun demikian, hal ini tak memperoleh hasil yang berarti, dan bahasa Arab terus ditulis tanpa huruf besar.Dewasa ini, penghargaan terhadap para ahli kaligrafi diberikan oleh seluruh kaum Muslimin selama sejarah mereka terus berlangsung, dan tercermin dalam penghormatan dan hadiah yang diberikan kepada sejumlah ahli kaligrafi mutakhir yang menonjol. Wahyu pertama dari al-Qur'an berhubungan dengan seni tulis, suatu keahlian yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia.

Salah satui sekian banyak sabda mengenai kaligrafi yang dipandang berasal dari Nabi Muhammad saw adalah " Tuhan menulis agar kebenaran tampak nyata. " Oleh karena itu tidak mengejutkan, apabila para ahli kaligrafi diayomi dan dihargai demikian tinggi sepanjang sejarahnya, menjadi faktor paling penting sebagai penghubung sesama kaum Muslimin, dan mewujudkan diri dalam seluruh cabang seni Islam, sebagaimana ilustrasi-ilustrasi berikut.

Al-Qur'an, yang merupakan firman Tuhan dan menyentuh setiap segi penghidupan orang Islam, selalu menjadi obyek pengabdian dan pusat perhatian bagi kegeniusan seni Islam. Hal ini tidak saja membuat kaligrafi terangkat ke tingkat seni suci, melainkan memb'iat ratusan al-Qur'an yang amat bagus banyak tersalin sebagai hasil yang menjadi bukti tentang kebesaran seni Islam itu sendiri.

Sesuai dengan itu, seluruhnya halaman al-Qur'an kaya dengan beragam ilustrasi seperti tampak berikut ini. Pada saat yang sama, kekayaan dan kekompleksan seni kaligrafi hanya dapat diapresiasi melalui kajian terhadap semua inskripsi yang ada pada bata, batu, kuningan, genting, tembikar, kayu dan bahan-bahan lain, dan dilengkapi dengan kajian terhadap tulisan dan gaya non-Qur'ani yang dikembangkan dalam berbagai masa oleh tangan para ahli kaligrafi ulung.

Dari berbagai Sumber.
Close Menu