Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

CINTA DITOLAK SAINS BERTINDAK

Assiry gombal mukiyo, 16 Mei 2015

Semakin saya belajar sains, semakin saya tahu kenapa manusia begitu terobsesi dengan cinta antar anak manusia, karena ternyata otak manusia punya mekanisme yang sama mendapatkan dophamine dengan mendapatkan cinta romantik atau mengkonsumsi kokain. Kecanduan akan dophamine ini menyebabkan manusia memuja cinta seperti seorang pecandu kokain yang kecanduan dan selalu ingin mengkonsumsi kokain.

Yang pasti adalah kalau cinta manusia itu aman, berbeda dengan dophamine dari kokain yang sangat berbahaya, dophamine cinta romantik natural diproduksi otak, dan jika cinta sudah berubah menjadi kasih sayang, ada tambahan oksitosin yang membuat manusia lebih tenang. Walaupun karena dorongan kecaduan dophamine itu mayoritas manusia akhirnya selingkuh dan mencari cinta-cinta baru yang menghasilkan dophamine karena oksitosin tidaklah sebergairah dophamine.

Dari sudut pandang ini, fakta bahwa sebagian besar manusia monogami sosial tetapi tidak monogami seksual menjadi kelihatan benang merahnya. Hanya sebagian kecil manusia istimewa saja yang bisa monogami sosial sekaligus monogami seksual.

Mungkin saja di masa depan, diversifikasi cinta manusia akan lebih kelihatan. Ketika misalnya dophamine bisa dihasilkan dari nanobot yang bisa menghasilkan dophamine di otak dalam skala yang aman, sebagian manusia tidak lagi perlu cinta romantik, apalagi kebutuhan evolusi untuk beranak bisa diganti dengan kloning atau bahkan digital immortality, hidup selamanya dalam alam digital. Walaupun begitu, kebutuhan akan cinta dalam bentuk kasih sayang akan terus ada, dalam hubungan antar individu diejawantahkan dalam oksitosin, dalam hubungan masyarakat lebih besar diejawantahkan oleh mirror neuron yang menumbuhkan rasa empati dan simpati.

Cinta akan selalu menemukan relevansinya, hanya bentuknya saja yang akan berbeda di setiap jaman, dan sains dan teknologi akan menjadi kawah zeitgeist transformasi cinta dari waktu ke waktu.

Suatu saat akan ada teknologi yang akan jauh lebih ampuh dari jampi-jampi, jaran goyang, pelet, semar mesem, semar mendem, atau apapun itu. Teknologi itu bernama Nano Brain Pacemaker yang akan mempengaruhi otak untuk mengeluarkan hormon oksitosin, serotonin, dan dopamin yang menimbulkan perasaan cinta pada orang tertentu dengan memasukkan memori terhadap seseorang itu ke hippocampus.

Maka yang terjadi bukan lagi Jika cinta ditolak Dukun bertindak melainkan menjadi jika cinta ditolak, maka Sains yang bertindak.
Close Menu