Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

ISLAM NUSANTARA

Assiry gombal mukiyo, 09 Juli 2015


Gejala cukup mengkhawatirkan keberagamaan di Indonesia sekarang ini adalah gejala puritanisme. Celakanya ini tidak hanya terjadi di agama Islam, tapi juga di agama Hindu, konghucu dan Kristen.
Yang beragama Islam berlomba-lomba menjadi kearab-araban, dan lambat laun meninggalkan Islam nusantara yang lebih fleksibel dan sinkretis. Padahal Islam nusantara inilah yang bisa menjadi alternatif dari Islam gersang dari Arabia yang menjadi momok kemanusiaan dengan menjadikan Islam sebagai agama anti seni, anti kemajuan, sekaligus anti emansipasi perempuan.

Yang beragama Hindu juga berlomba-lomba menjadi keIndia-indiaan, padahal Hindu nusantara yang sinkretis adalah peradaban indah yang sedikit banyak menetralisir kejahatan Hindu India. Hindu nusantara yang toleran dan bahkan sinkretis dengan Buddha dan budaya lokal telah menjadi kekuatan kejayaan masa lalu nusantara.

Yang beragama Kristen pun sama, bertaburan Kristen-Kristen fundamentalis yang anti sosial dan membentuk enklave-enklave yang tercerabut dari keseharian masyarakat kebanyakan seperti Mawar Sharon, Bethany, Pentakosta, dsb. Padahal Kristen Nusantara seperti Katolik Jawa atau Protestan Batak yang menyatu dengan adat adalah alternatif jauh lebih baik dari puritanisme global perkotaan.

Gejala puritanisme ini juga menggerogoti toleransi antar umat beragama, dimana masing-masing agama semakin menjauhkan diri dari matriks-matriks pertemuan peradaban dengan agama lainnya. Apalagi sejatinya , Kristen itu bukan Barat, Hindu itu bukan India, sebagaimana Islam juga bukan Arab. Sayangnya orang Indonesia sudah mulai lupa bahwa agama itu output, bukan input. Agama itu perilaku, agama itu predikat bukan obyek. Agama itu mestinya membantu budaya, bukan budaya tunduk pada agama.

Beberapa bulan terakhir kita menjadi seperti seekor anak yang kehilangan induknya, menjadi bingung dan menganggap ada aliran baru lagi dalam islam. Istilah "islam nusantara" menjadi polemik dan perdebatan panjang bahkan beberapa diantara orang islam sendiri mencoba menolak keras dengan menganggap islam nusantara sebagai momok baru bagi islam itu sendiri.

 Menurut saya Islam Nusantara bukan merupakan sinkretisme agama yang mencampuradukkan berbagai keyakinan. Islam Nusantara merupakan ajaran Islam yang menyadari bumi tempatnya berpijak. Artinya, ajaran Islam tidak menyingkirkan tradisi yang sudah ada di Nusantara sepanjang jelas-jelas tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Islam melebur dengan budaya tersebut karena pendekatan dakwah di Nusantara ini pendekatan budaya, bukan senjata seperti di Timur Tengah. Di Nusantara, (pendekatannya) dilandasi oleh pergaulan baik, akhlak mulia, dan budaya. Ini yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berbeda di negara timur tengah yang berdakwah dengan cara-cara kekerasan sehingga menjadi preseden buruk bagi islam yang rahmatan lil'alamin.

Pemahaman Islam yang ramah, sejuk, dan peduli pada kebenaran dan keadilan sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini. Terlebih di tengah menyebarnya paham radikal yang menganggap ajaran yang mereka pegang yang paling benar sehingga menganggap pemahaman Islam di luar pandangan mereka salah bahkan beberapa kelompok minoritas berani menghukumi kafir.

Padahal jika kita menilik kembali kisah perjuangan dakwah Nabi SAW. Ajaran Rasulullah bisa diterima karena akhlak dan penyampaiannya yang santun. Jika saat itu Nabi mengkafir-kafirkan Qaumnya yang jelas kekufurannya tentu hanya Nabi SAW.yang Islam.

Begitu juga ketika Para pendakwah ( Wali songo) 400-500 th silam menuding-nuding penduduk nusantara dengan predikat sesat, kafir dan semacamnya tentu islam tidak akan pernah ada di Nusantara ini. Untungnya Para Wali songo mengikuti jejak dan ittiba'kepada Rasulullah Muhammad SAW, dalam berdakwah dan menebarkan islam tidak "murah" menebar kata bidah, sesat dan kafir apalagi menghalalkan darah untuk ditumpahkan hanya karena perbedaan ideologi dan keyakinan.

Islam terbentur di jidat hitam dan celana cingkrang. Islam hanya simbol di surban dan peci. Islam bukan lagi menjadi "oase" di hamparan padang tandus kehidupan.Na'udzu billahi min dzalik.
Close Menu