Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

IKHLASKAH ANDA DISEMBELIH ALLAH?

Assiry gombal mukiyo, 23 September 2015


Arti Kurban idul adha itu diambil dari bahasa Arab, yaitu qaruba, yaqrabu, dan qurban wa qurbaanan di mana artinya adalah mendekati atau menghampiri karena cinta semata. Sementara itu, arti kata qurban secara harfiah berarti hewan sembelihan yang diambil dari kata udhhiyah atau dhahiyyah.

Makna qurban dalam idul adha adalah bahwa kita harus ikhlas dalam menjalankan peran apapun baik itu berupa kesusahan, derita atau singkatnya bisa kita sebut sebagai ujian dari Allah. Kata lainnya adalah saat kita "disembelih" Allah, maka ikhlaslah dan bertawakal sehingga dengan keikhlasan itu kita akan mendapatkan "domba" kebahagiaan sebagai penggantinya.

Sayangnya, saat kita menjadi bagian dari sembelihan Allah, kemungkinan kita tidak ikhlas dan berat sehingga tentu kita tidak mendapatkan gantinya berupa domba. Lha wong kadang kita berqurban itu pemahaman kita berhenti dan terbentur kepada ritual penyembelihan binatangnya saja. Jadi dapatnya ya cuma sate dan gulai daging. Hanya memberi atsar pada kenyangnya perut dzahir bukan pada kenyangnya bathin kita. Hanya berhenti kepada jism Tidak kepada essensi dari kurban itu sendiri.

Kuncinya adalah kalau kita akan atau sedang "disembelih" Allah, maka kita harus ikhlas dan tulus agar kita mendapatkan domba sebagaimana Ibrahim menyembelih Ismail. Masalahnya, kita seringkali tidak ikhlas saat disembelih Allah. Inilah hal yang paling berat, yaitu ikhlas dan tulus. Misalnya baru saja kita ditinggal istri sudah galau setengah mati, warung sepi ngeluh, gagal panen saja sudah putus asa bahkan baru saja diputus pacar sudah kelimpungan dan gulung -gulung ditengah jalan.

Kita tidak betul -betul ikhlas dan kuat menghadapi persoalan hidup kita. Padahal jika kita tidak mampu memikul derita dan pahitnya himpitan hidup ini maka kita juga tidak akan mampu merasakan enak dan manisnya kebahagiaan. Inilah yang utama dari essensi qurban.

Saya analogikan seperti seorang calon suami yang bertanya kepada calon istrinya. "Mana bukti pengorbananmu atas dasar cintamu terhadap aku wahai kekasihku?" kata calon suami.

Maka seorang calon istri tersebut yang memang betul -betul cinta akan menjawab "aku sungguh mencintaimu bahkan apapun akan aku berikan atas bukti ketulusan cintaku".

Nah ketika seorang calon istri itu memberikan pembuktian atas cinta terhadap calon suaminya maka disitulah letak ketulusan cinta dari bukti pengorbanan yang sesungguhnya. Lulus atau tidak pengorbanan itu merekalah yang tahu.

Serbagaimana arti kata qurban yang bermakna qarib atau semakin dekat karena cinta kepada Allah, maka hakikat kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah sedekat -dekatnya, bahkan mesra yakni dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, makna qurban dalam pengertian Islam adalah bentuk pendekatan diri kita kepada Allah melalui lantaran hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih sebagai bukti cinta dan penghambaan diri kepadaNya.

Dengan begitu, kita merelakan apa saja termasuk sebagian harta kita yang sebetulnya milik Allah untuk orang lain sehingga disinilah letak hubungan horizontal atau kesalehan sosial kita dibuktikan. Ini menjadi bagian dari ketaatan dan kesetiaan kita kepada Allah. Syaratnya, dalam qurban kita harus benar-benar untuk mencari ridha Allah, bukan untuk yang selainnya misalnya ingin berqurban biar disangka soleh dan disebut dermawan.
Close Menu