Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

MARHABAN YA NATAL MARHABAN YA YAUMA NATAL

Assiry gombal mukiyo, 24 Desember 2015


Saya tidak sedang berhujjah atau berfatwa karena maqam saya adalah "al gombalu wa addhobholu" saya bukan ulama bukan kiyai juga buka siapa -siapa. Saya hanya segelintir manusia yang ikut bergembira ketika melihat manusia yang lainnya yang tentu sebagai saudara saya sedang merayakan natal.

Saya ucapkan selamat hari Natal wahai saudara -saudaraku dimanapun anda berada, damai bersama Tuhan Allah SWT. Menukil fatwa Al Habib Umar bin Hafidz Tarim Yaman bahwa sikap moderat (wasathiyah) adalah karakter inti ajaran Islam yang merepresentasikan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hal ini ia sampaikan dalam acara bedah buku karyanya, al-Wasathiyyah fil Islam (Moderat dalam Perspektif Islam).

Habib Umar mengutip surat al-Baqarah (143), “Dan demikianlah Kami (Tuhan) jadikan kalian umat yang ‘wasath’ (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”

Jika kita tela'ah lebih dalam ayat tersebut umat Islam dipuji oleh Allah sebagai golongan yang ‘wasath’ karena mereka tak terjerembab dalam dua titik ekstrem. Yang pertama, ekstremitas umat Kristen yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak keras dimensi jasad dalam kehidupan manusia serta pengkultusan terhadap utusan yakni Nabi Isa atau Yesus Kristus sebagai anak Tuhan yang dipatahkan oleh Firman Allah SWT dalam Surat Al Ikhlash.
 
Yang kedua adalah ekstremitas umat Yahudi yang melakukan distorsi atas Kitab Suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi-nabi yang diutus Allah kepada mereka. Ekstremisme yang terjadi akhir-akhir ini terjadi karena konsep wasathiyah mulai terkikis, tergerus oleh orang -orang islam sendiri yang mengaku lebih alim sehingga mudah sekali mengkafirkan dan membid'ahkan saudara sesama muslim.

Wali Songo sebagai contoh ideal yang berhasil menerapkan prinsip moderat dalam kegiatan dakwah menyebarkan Islam di Nusantara. Dengan sikap moderat yang ditunjukkan Walisongo, Islam dapat diterima dengan baik di Indonesia. Dari dahulu tidak pernah ada masalah dengan kerukunan atas keberagaman agama yang dipeluk di nusantara ini.

Hukum mengucapkan selamat (tahni’ah) Natal kepada umat Kristiani adalah boleh selama tidak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam, seperti klaim Isa anak Tuhan dan keikutsertaan dalam kemaksiatan.
 
Kebolehan ini, karena memuliakan para utusan Allah, termasuk Nabi Isa, adalah di antara hal yang pasti diakui dalam Islam (min dharuriyyati hadza ad-din). Setiap orang mengaku dirinya menempuh jalan yang moderat, sehingga pengertian dari terma wasathiyah sendiri harus diperjelas. Saya tidak sependapat dengan beberapa kelompok yang mengatas namakan islam tapi berperilaku anarkhi, hobby dengan kekerasan dan pengrusakan hanya karena berbeda pendapat soal furu'iyyah.

Saya prihatin kepada saudara -saudara saya muslim yang dengan gampangnya menuduh kafir hanya karena mengucapkan natal kepada saudara kristiani. Mereka menuduh kalau mengucapkan selamat Natal berarti meyakini akan ketuhanan Isa Al Masih atau Yesus Kristus.

Sungguh tidak ada hubungan sama sekali, sebab seorang Muslim yang mengucapkan "selamat Natal" tetap tidak meyakini dengan ketuhanannya Nabi isa atau Yesus Kristus tidak bisa dihukumi kafir, sama halnya dengan orang Nashrani yang juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri atau Selamat atas kelahirannya Nabi Muhammad saw, bukan berarti mereka berikrar sebagai Muslim.

Banyak diantara kita yang masih saja terjebak dengan posisi sakralitas sahadat yang disamakan kedudukan (maqamnya) dengan mengucapkan selamat natal. Lha wong mengucapkan selamat natal ko disamakan dengan mengimani bahwa Yesus anak Tuhan. Ini terlalu jauh analoginya. Jika membaca syahadat itu syarat pertama masuknya islam, maka syarat pertama masuk kristen bukan mengucapkan selamat natal tapi dengan dibaptis.
 
Jadi jika seorang muslim ditanya: "Maukah anda dibaptis?" maka derajat prtanyaan ini sama dengan prtanyaan: " Maukah anda mengucapkan dua kalimat syahadat?" Bukan disamakan dengan mengucapkan Selamat Natal.

Sama halnya jika kita menyapa "embekkk" karena kebetulan ketemu dengan kambing betina misalnya. Apakah lantas kita menjadi kambing? Tidak. Terus tiba -tiba kita dituduh kambing gara -gara masuk ke kandang kambing tetangga. Kita kan hanya menyapa. Dan, menyapa itu harus dengan bahasa mereka.

Tidak sedikit yang sering sekali tersungkur bahkan kedalam pemahaman yang keliru misalnya karena Presiden ikut menghadiri perayaan natal kemudian kita menyimpulkan bahwa Presiden murtad. Ini kan aneh. Kapan kita bisa berfikir cerdas kalau terus -menerus membenamkan mindset tersebut kedalam otak kita.
 
Kalau boleh saya pakai analogi Gusdur, beliau pernah dihujat habis-habisan dan bahkan dituduh murtad atau kafir karena menghadiri natalan di gereja saat menjadi Presiden. Dengan santai beliau nyelethuk "jalan berdua itu belum tentu pacaran, gitu aja ko repot".

Oh indahnya jika kerukunan antar ummat beragama terus dipupuk agar senantiasa subur. Saya ikut berbahagia atas apa yang dilakukan oleh saudara -saudaraku Majelis Jemaat "Immanuel" Malang Jatim. yang merayakan natal tapi juga memberikan hak atas kegiatan jumatan di Masjid Jami Malang.
Close Menu