Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

LEVEL MANUSIA

Assiry gombal mukiyo, 12 Januari 2015




Menurut teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow yang pernah saya baca, manusia itu dibagi menjadi 5 level sesuai tingkat pemenuhan kebutuhan dalam hidupnya. Pada hakikatnya setiap manusia seharusnya melewati semua step-step atau level yang ada, namun ada orang tertentu yang langsung bisa mencapai level tertinggi dari teori hierarki kebutuhan tersebut. Kira -kira level itu adalah:
  1. Manusia pada level pertama adalah seseorang yang kebutuhannya masih seputar kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis diantaranya seperti makan, tidur, "perngacengan" atau seksual, dan kebutuhan-kebutuhan fisik yang lainnya. Level ini merupakan level yang paling banyak dicapai oleh kebanyakan orang. 
  2. Naik satu level di atasnya yaitu ketika seseorang sudah mulai membutuhkan rasa aman. 
  3. Level setingkat lagi adalah ketika seseorang mulai memikirkan kebutuhan sosial. Termasuk kebutuhan sosial yaitu ketika seseorang merasa butuh untuk disayangi dan dihargai. 
  4. Menaiki satu level lagi yaitu level dimana seseorang sudah merasa butuh untuk menunjukkan eksistensi dirinya.
    Pada level ini seseorang sudah mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menunjukkan keberadaannya hingga akhirnya dia dapat dikenal oleh orang lain. Dewasa ini pun sudah cukup banyak yang mencapai level ini. 
  5. Untuk level tertinggi dan masih sangat sedikit yang mencapainya yaitu level ketika manusia sudah berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya.
Ketika sudah mencapai level ini, seseorang akan mengorbankan hidupnya untuk orang lain. Dia sudah tidak butuh untuk dikenal orang lain, yang terpenting bagi dirinya adalah bagaimana agar dia mampu bermanfaat untuk orang lain. 

Masyaa Allah, Duh Gusti.....Saya meraba diri saya sangat jauh dari level ini. Saya masih pada tataran, maqam atau level bagaimana perut saya kenyang, bisa "ngaceng" dan kebutuhan pribadi saya tercukupi. Soal orang lain cukup apa tidak, bisa makan atau tidak tidak pernah terlintas dalam benak saya sedikitpun.itu saya.
 
Meskipun begitulah level saya, tetapi semoga saya bisa terus belajar dan berbenah. Tidak untuk mencapai pada level tertentu, tidak untuk apa -apa dan untuk siapa siapa.Tapi semoga menjadi bukti bahwa saya "pernah hidup" di dunia ini.

Saya tidak pernah merasa sedikitpun bahwa yang saya lakukan ini benar atau baik. Justru saya "tahu diri" karena saya bukan kiyai, ustaz yang alim dan semacamnya yang hafal Al Quran dan khatam berjilid-jilid kitab kuning.
 
Jujur saya adalah orang yang tidak baik dan banyak kekurangan. Tidak sedikit orang yang menilai bahwa setiap langkah dan perilaku saya jauh dari Al Quran dan kajian kitab seperti yang diajarkan oleh para kiyai dan ulama. Singkatnya saya jauh dari kebaikan sebagai manusia, makanya saya iyakan saja apa kata mereka terhadap saya.

Untungnya saya santai dan tetap cuek dengan mengatakan kepada mereka yang menilai saya seperti itu. "Memang perilaku hidup saya buruk, tidak baik dan jauh dari Al Quran makanya saya ingin lebih dekat dengan Al Quran dengan terus belajar dari Para Ulama dan kiyai. Kalau perilaku saya sesuai dengan ajaran Al Qur'an tentu saya jadi ulama atau minimal saya jadi Waliyullah atau kekasih Allah, makanya saya jadinya "gombal mukiyo". Tapi Kitab Al Quran itu mengajarkan tentang kebaikan bukan menyimpulkan seseorang secara subyektif apalagi menghakimi".

Al hamdulillah....... meskipun harus terseok dan tertatih dengan tiap tetes keringat yang masih ada, tanpa menebar proposal bantuan dan meminta sumbangan kepada siapapun akhirnya "Gedung Addawwat" PSKQ Modern dengan ukuran 7,5 m x 15 m dan Workshop PSKQ sudah 95 % jadi juga. Hanya tinggal finishing dan pengecatan. Selanjutnya pembangunan untuk asrama para Guru dan pembimbing PSKQ Modern lantai 3 dibelakang "Gedung Addawwat" PSKQ Modern.

Ya Allah hamba bukan pribadi yang baik, saya tidak butuh level atau maqam apapun dalam hidup ini. Bimbing dan tunjukilah jalan hamba selalu kepada jalan orang -orang yang sudah istiqamah " ihdina asshiratha al mustaqiim". Dan tetapkan hati hamba untuk teguh terhadap tujuan hidupku yakni menebar virus-virus kaligrafi di muka bumi ini. Amiiin.

Close Menu