Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

KEMISKINAN MENURUN

Assiry gombal mukiyo, 04 Februari 2016


Menurut saya, Kemiskinan di Negeri ini memang menurun. Artinya bukan menurun kuantitasnya, tapi kemiskinan itu menurun dari orang tua kepada anaknya, saudaranya, tetangga dan lainnya. Jadi semacam virus zika yang menebar ancaman dan menular dengan cepat.

Ironi, justru semakin pesat perkembangan masyarakat dalam keadaan fakir, miskin, dan terlantar. Mereka bisa bermetamorfosis menjadi gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan.

Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Pilihan kata dalam klausul ayat tersebut ternyata bersifat abstrak, ambigu, wagu dan juga lucu.

Pengertian "dipelihara" dapat memunculkan makna yang berbeda-beda. Jumlah gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan yang terus bertambah di banyak kota besar lebih mendorong seseorang mengartikan kata "dipelihara" itu berati dibudidaya, dilestarikan, dikembangbiakkan.

Kata kunci: negara, keadilan, fakir, miskin, anak terlantar, dan dipelihara. Negara memang belum mampu merawat rakyatnya, tapi sesama manusia kita harus merawat kemanusiaan kita. Sedikit saja empati kita adalah kebahagiaan besar buat mereka. Karena sebesar-besar kebahagiaan adalah ketika kita bisa membuat manusia lain juga merasakan kebahagiaan.

Tidak sedikit disekitaran kita orang -orang yang memilih bekerja maupun berdagang untuk menyambung hidup ketimbang harus jadi pengemis. Meskipun usia mereka sudah senja.

Yang mendapatkan banyak tidak berlebihan dan yang mendapatkan sedikit tidak kekurangan. Prinsip Hidup yang seimbang akan membawa damai sejahtera di hati, di bumi, mulailah dari diri sendiri. Sehingga korupsi, mencuri dan manipulasi minimal bisa diatasi ketika selalu mensyukuri atas apa yang dimiliki.
Close Menu