Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

KETIKA ISTRI TAK LAGI DI DAPUR

Assiry gombal mukiyo, 15 Februari 2016


Pandangan nonadan ibu muda dalam rumah tangga saat ini kian hari semakin memprihatinkan sehingga semakin sering saya mengelus dada saya bukan dada mereka. Karena sebagian dari mereka menganggap bahwa memasak di dapur, mengurus anak, mengurus dan membantu tugas suami, bersih -bersih rumah, dan urusan sumur adalah bukan tugas mereka melainkan tugas dari pembantu.

Celakanya, jika ada pria yang ingin menikah dengan mencari tipe wanita yang seperti itu dengan kompak mereka mengatakan" "Cari aja pembantu sono dan jangan cari istri ". (Mengharukan berasa ingin jungkir balik).

Jika anda ketemu model perempuan yang seperti itu cukup didoakan semoga insyaf tapi jangan dinikahi jangan juga anda "sumpahin" dengan sebuah doa dan harapan:  "Semoga Wanita kayak gitu akan sulit dapat jodoh. Andaikan menikah juga, tak akan bertahan lama. Mereka akan menyesali sikapnya manakala usianya sudah senja. Wajah dan kulit sudah keriput, kecut, semrawut, kumut-kumut, serta penyakit stroke menerjangnya tanpa ada yang mau membantunya. Sebab, mereka pasti akan hidup sendiri. Tanpa anak dan tanpa suami. Kematiannya setara kematian seekor binatang." ( doa semacam ini bukan untuk diaminkan).
Beberapa dari mereka justru lebih bangga bisa bekerja di kaffe, di Mall, di kantor -kantor, KFC dan semacamnya.

Atau mereka bekerja di Bank menganggap pekerjaannya itu lebih bergengsi dari pada melayani suami dan mengurus anak -anaknya. Memasak makanan dan kopi untuk manajernya itu karier, sedangkan membuatkan kopi untuk suami itu tugas pembantu.

Memasak itu dipercayai sebagai salah satu naluri kewanitaan. Bahkan, poin ini menjadi bagian identifikasi fungsi tradisional perempuan. Menurut istilah Jawa ada tiga poin hal penting dari peran perempuan yakni Masak/dapur, Manak/kasur, dan macak/pupur atau bisa juga disebut Masak (pengabdian), manak (reproduksi), macak (estetika).

Seorang istri yang tidak bisa memasak seperti dianggap bukan perempuan sejati karena tidak mampu memenuhi hakikatnya. Meskipun demikian tidak sedikit para ibu ini kerap berkelak bahwa memasak bukan hanya tentang perempuan dengan membeberkan fakta sejumlah chef ternama yang berjenis kelamin laki-laki. Masih beruntung karena kepercayaan masyarakat bahwa memasak adalah naluri perempuan belum goyah hingga kini.

Sungguh menjadi Ibu rumah tangga adalah pekerjaan teramat mulia, tapi bukan berarti menjadi wanita karier adalah pekerjaan yang hina. Asal bisa memposisikan diri kapan kerja dan kapan mengurus anak dan suami dirumah, meskipun harus membutuhkan tenaga ekstra tentunya. 

Tidak mengapa jika menjadi wanita karier adalah pilihan darurat untuk membantu kebutuhan rumah tangga asal tidak melupakan perannya sebagai seorang Ibu bagi anak -anaknya dan kewajiban istri bagi suaminya.
Dalam Islam pun tidak ada sebenarnya kewajiban seorang istri untuk mencari nafkah. Tugas mencari nafkah adalah mutlak tugas seorang suami. Tentu dengan pengecualian misalnya gaji suami yang pas -pasan atau suami tidak bisa bekerja karena sakit keras dan semacamnya.

Ketahuilah para ibu muda, karir tertinggi seorang perempuan adalah ketika ia menjadi seorang Ibu. Setinggi apapun jabatannya entah sebagai menteri ataupun presiden sekalipun. Mengurus rumah tangga, mengurus anak, melayani dan membantu tugas suami ketika membanting tulang dan bermandi keringat bahkan kadang nyawa jadi taruhannya untuk mencari nafkah adalah termasuk devinisi dari kata ibu.

Betapa bahagianya ketika seorang perempuan bisa berfungsi sebagai ibu, dipanggil anak -anaknya sebagai ibu, dihormati, dikasihi bak ratu istilah jawanya "dipikul dhuwur dipendhem jero". Alangkah menderitanya jika seorang ibu ketika masa senjanya dititipkan kepada seorang pembantu, barangkali anak -anakny saat kecilpun juga demikian. Semuanya menjadi setimpal bukan?

Semoga bukan efek dari emansipasi yang kebablasan, karena pekerjaan dalam rumah tangga jauh lebih mulia, bahkan dalam islam jaminan surga bagi istri yang berbakti untuk suami dan keluarganya. Simple bukan ?
Close Menu