Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

MUKENA SHOLAT ALA NEGERI TIRAI BAMBU

Assiry Gombal mukiyo, 08 Februari 2016


Lihatlah saudara -saudara kita di Cina yang negaranya berfalsafah komunis. Barangkali sahabat -sahabat dari Indonesia akan menilai bahwa sholat mereka dianggap tidak sah dan diteriaki secara berjamaah "nggak syar'i itu".

Betapa perjuangan mereka menegakkan kalimah Allah di tengah-tengah masyarakat dan budaya yang sangat sulit untuk menjalankan syari'at Islam. Tidak seperti di indonesia shalat "pake" mukena tapi nilai perjuangan dan ruh Islam mungkin tidak ada apa-apanyanya dibanding perjuangan mereka.
 
Islam selalu mengajarkan kebijaksanaan dalam menghadapi segala sesuatu. Sayangnya di negara Indonesia tercinta mind-set kalau perempuan shalat harus pakai mukena. Islam itu kaya akan kebijaksanaan, saat kita shalat tentu diwajibkan berwudhu tapi tidak selalu harus pakai air suci dan menyucikan, ketika kondisi darurat saja boleh memakai debu halus.

Inti dalam syarat sah shalat bagi perempuan adalah tertutupnya aurat dengan tambahan syarat harus memakai penutup yang suci dan menyucikan diri, disini tidak diwajibkan memakai hijab atau mukena loh, apalagi harus memakai produk hijab atau mukena yang disertifikasi halal dahulu oleh MUI. (Bisa pusing pala barby sambil gulung -gulung).

Anda tentu pernah melihat saat darurat Ibu-ibu shalat ditutup sarung? saya sendiri sering melihat kalau sedang perjalanan menuju antah berantah. Saya miris sekali melihat masyarakat kita terlalu mudah terhasut dengan isu yg membuat kita sebagai muslim berpikiran sempit. Padahal Al-Quran dan Al-Hadist menjabarkan masalah shalat saja sangat luas dan beragam disesuaikan dengan kondisi.

Setiap pribadi itu memang punya hak dalam melakukan apa saja yg dia mau dan dia suka. Termasuk dalam tata cara ber pakaian dalam shalat dan lainnya. Saya tidak akan menjudge orang yg berpakaian seperti diatas dia itu dosa / tidak nya, sah shalat nya atau tidak nya ( termasuk orang yang shalat dengan memakai Baju Ketat / Kaos Ketat serta ber Celana Jeans Ketat ), karena hanya Allah yg menentukan kadarnya diterima atau tidak sholatnya.

Menurut saya justru disinilah kita bisa melihat keunikan dari Islam Nusantara. Bagaimana para ulama Nusantara jaman dulu menginterpretasikan syariat dalam kacamata budaya setempat. Jaman dulu pakaian jilbab yang menutup aurat belum begitu populer. Banyak wanita yang kesehariannya belum berhijab. Maka dari itulah diciptakan mukena/ rukuh sehingga mereka bisa sholat sesuai dengan tuntunan sunnah yaitu menutup aurat dengan sempurna. Setahu saya memang istilah mukena/rukuh/telekung hanya dikenal di wilayah Nusantara (sekitar Asia Tenggara). 

Coba saja lihat pakaian sholat wanita muslim di negara non Arab, seperti Turki, India, Uzbekistan dsb. Kalau dibandingkan dengan kriteria Mazhab Syafii yang populer di Nusantara mungkin terlihat kurang sempurna. (ketat, terlihat rambutnya, telapak tangan, kaki dsb).

Tapi yang lebih essensi dan hakiki dari sholat kita adalah bukan pada inputnya tapi terletak pada outputnya. Bukan hanya terjebak kepada ranah ritualny (kesalehan pribadi) saja, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang baik untuk semuanya( kesalehan sosial).
Close Menu