Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

TELADAN UMAR BIN KHOTTHOB

Assiry gombal mukiyo, 23 Februari 2016


Salah satu pemimpin yang patut dijadikan teladan ketika menjalankan roda pemerintahannya adalah Umar bin Khatab. Perangainya keras dan tegas, namun dia keras dan tegas hanya ketika diperlukan saja. Selama ia memimpin, tidak seorangpun kaum miskin pernah dihukum karena mencuri. Bagi Umar, ketika masih ada kaum miskin, itu kesalahan terbesar dia menjadi Pemimpin. Mencuri karena kelaparan bukanlah kejahatan di mata Umar, namun di sisi lain dia sering menghukum kaum kaya yang masih serakah dan melanggar hukum.

Semboyan Umar adalah 'Siapapun yang lemah akan kuat di sampingku, siapapun yang kuat akan tunduk kepada hukumku'. Setiap malam dia blusukan keliling kota tanpa pengawalan, dengan "nyamar" dengan penampilan lusuh sehingga banyak yang yidak mengenali tujuannya untuk melihat langsung kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Beda dengan sekarang pemimpin ngasih bantuan Traktor saja difoto -foto meskipun akhirnya traktornya diambil kembali. Calon Kepala Desa mau nyalon kemudian nyumbang semen ke Masjid karena tidak jadi Kepala Desa kemudian diminta lagi semennya. Semua orang berlomba -lomba agar terlihat baik, sempurna. Mereka melakukan apa saja hanya karena pencitraan. Pencitraan itu kan menutup -nutupi keburukan, kekurangan, kelemahan -kelemahan sistem, kekuasaan, pokoknya apa saja dengan sesuatu tampilan yang seolah -olah baik.

Bahkan menjelang meninggalpun Umar masih merasa menyesal bahwa masih banyak rakyat yang belum bisa dijenguknya terutama yang jauh dari Madinah misalnya di Mesir dan Irak. Kekhalifahan di bawah Umar telah menjadi pemerintahan terbesar di dunia saat itu, tapi itu tidak menjadikan Umar bergelimang dalam kemewahan. Bahkan dia lah yang memulai dibentuknya Baitul Maal (Kementerian Keuangan) untuk mengumpulkan dana agar bisa dibagikan lagi kepada seluruh masyarakat, dalam dunia modern disebut "welfare state". Semua uang yang dikumpulkan tahun itu harus dihabiskan tahun itu pula untuk kesejahteraan masyarakat.

Konsep welfare state ini lah yang seharusnya diterapkan di semua negara termasuk Indonesia. Di jaman Khalifah Umar bin Khatab, orang miskin dan terlantar mendapatkan bantuan termasuk yang non muslim. Ketika ada kelaparan atau wabah, negara menyediakan makan untuk rakyatnya dan pengobatan massal. Ada tunjangan buat anak-anak dan uang pensiun buat para Lansia (lanjut usia).

Uangnya didapatkan dari zakat, infaq, dan shodaqoh. Bagi non muslim karena tidak diwajibkan zakat maka mereka membayar jizyah, yang jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang harus dibayarkan ke penguasa sebelumnya baik dinasti Sasanid Persia ataupun Kristen Byzantium.

Konsep ini justru sekarang diterapkan maksimal di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Bagi para pengangguran atau sakit, digaji setidaknya 8 juta rupiah di Eropa Barat, sedangkan di Amerika mendapatkan Food Stamp yang bisa ditukarkan sembako. Ada banyak bantuan sosial buat anak dan orang tua, pensiun pun diatur negara dengan sangat rapi.

Bagaimana dengan di Indonesia " Dlongop bin dlohom" yang miskin dipelihara turun temurun. Dari mulai kakek, Bapak, anak, cucu, cicit dan seterusnya miskin semua. Inilah makna dipelihara. Sementara di negara-negara mayoritas Islam, konsep welfare state banyak dilupakan, yang miskin dan terlantar dibiarkan menemui kematiannya sendiri. Bahkan banyak yang mati kelaparan sementara yang lainnya bermewah -mewah dan berlimpah makanan. Di negara yang kaya sumber daya alam seperti minyak bumi, sebagian besar kekayaannya hanya untuk raja dan keluarganya, rakyat hanya kebagian sisa-sisa, berbeda jauh dengan Umar yang bahkan keluarganya pun tidak boleh menerima fasilitas negara, tempat tinggalnya hanya rumah kecil dari lumpur, bajunya cuma satu itupun ditambal sana sini. Bahkan ketika utusan dari Persia datang untuk membayar pajak, mereka sangat terkejut melihat Umar yang tidur di emperan masjid bersama dengan kaum miskin Madinah. Umar bahkan berucap, jika ada anjing lapar di tepi sungai Eufrat, maka itu kesalahan Umar.
Mereka yang membenci Umar menjadi gigit jari karena Beliau fimakamkan bersebelahan dengan Rasulullah Muhammad SAW. ini bukan sebuah kebetulan tapi karena derajat yang tinggi yang diberikan Allah atas perjuangan Umar dalam mengemban amanah yang berat pada saat itu. Islam setelah masa Khulafaurrasyidin telah menjadi sekadar pemanis bibir dan nyinyir.
Close Menu