Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

AMBIGUNYA PENDIDIKAN KARAKTER

Assiry gombal mukiyo, 21 Mei 2016



Selama ini kita mengacaukan arti moral dan karakter. Moral itu kaitannya dengan baik atau buruk. Selama ini kita menyebut pendidikan karakter tetapi maksudnya pendidikan moral atau ditujukan agar siswa berperilaku baik. 

Padahal karakter itu bukan seperti itu. Karakter itu adalah ciri khusus, karakter itu hubungannya dengan kecenderungan spesifikasi. Anjing itu berbeda dengan kucing. Pendidikan karakter berurusan dengan pengembangan potensi-potensi khusus atau unik setiap manusia.

Kalau memang maksudnya adalah pendidikan moral ya sebut saja pendidikan moral ( akhlak) tetapi kalau yang dimaksud adalah pendidikan karakter, maka kita harus mengerti betul mengenai apa yang dimaksud dengan karakter.

Justru Siswa-siswa kita sudah semakin berkarakter dan modern. Artinya mereka memilki karakter yang lebih berani dan semakin menantang tidak monoton misalnya siswi -siswi ngerokok berjamaah, atau bugil pamer paha merayakan kelulusan dan lainnya. Apa jangan -jangan karena pemahaman kita terhadap karakter yang sesungguhnya maksud kita adalah perbaikan moral adalah abu -abu maka yang terjadi mereka memahaminya salah kaprah.

Akhirnya yang tidak bermoral justru itu dianggap berkarakter, dan yang sesungguhnya bermoral dianggap tidak berkarakter. Lama -lama kita tidak bisa membedakan mana beol dan mana roti. Sehingga bisa jadi kita ingin sarapan dengan roti dan secangkir kopi tapi salah persepsi sehingga tai yang kita makan lahap sambil nyeruput kopi.
Close Menu