Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

PENDIDIKAN ANAK ADALAH SOAL PROSES

Assiry gombal mukiyo, 04 September 2016




Pendidikan di negara-negara maju memang lebih menekankan pada pembangunan karakter dan proses, bukan seperti di negara-negara yang tertinggal seperti di Indonesia.
Dimana pendidikan yang berkembang selalu beroreintasi pada kemampuan menghafal, mengingat dan tujuan pendidikanya sendiri selalu tentang berapa tinggi nilai seseorang siswa atau siswinya, bukan bagaimana proses untuk mendapatkan nilai tersebut.

Itu sebabnya di negara maju orang-orang lebih memperhatikan proses ketimbang hasil sedangkan di negara terkebelakang orang lebih suka melihat hasil ketimbang prosesnya. Jadi jangan heran di negara terkebelakang orang berlomba- lomba terlihat kaya dan sukses walaupun dengan cara-cara yang kotor seperti korup, menjilat, memeras, dan kongkalingkong, yg penting terlihat berhasil.
Berbeda dengan di negara maju, tidak peduli sesukses apa anda, tetapi kalau cara yang anda tempuh adalah cara kotor maka anda harus mundur kalau tidak mau di permalukan.

Pendidikan, dalam istilah Bahasa Arab kata “tarbiyyah”, “ta’lim”, dan “ta’dib”. istilah “ta’dib” (pendidikan adab) lebih tepat untuk menggambarkan proses dan tujuan dari pendidikan dalam konsepsi Islam, yaitu untuk membentuk manusia yang baik, yaitu manusia yang beradab.

Saya sendiri tidak hanya meneladankan dan memberi bekal keterampilan dan keahlian untuk Santri -Santri PSKQ Modern tetapi juga mengajarkan bahwa hidup itu perlu proses belajar. Anak -anak saya berikan praktek langsung bagaimana belajar menulis kaligrafi dan mewarnai. Didalam proses itu terdapat banyak hikmah dan pengajaran yang terkandung didalamnya. Rasulullah Muhammad SAW menegaskan soal ini dengan menasehatkan untuk kita semua untuk mengajarkan anak -anak kita belajar menulis "Akrimuu auladakum bi alkitabah fainna al kitabata min ahammil umur wa a'dhami asssurur".

Sahabat sekaligus keponakan dari Rasulullah SAW yakni Ali Bin Abi Thalib r. a mengatakan ,” Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Pesan dari sahabat Rasulullah SAW ini bermakna sangat dalam karena kemampuan menulis ternyata sangat berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan memiliki pengaruh yang baik bagi proses berfikir.
Tentunya kemampuan untuk dapat menulis pada anak ini perlu adanya arahan, bimbingan serta perhatian dari orang tua dan pengajar selaku pendidik. Sebab, untuk dapat menulis ini banyak faktor yang terlebih dahulu harus dipenuhi. Jika anak berhasil menulis sesuatu setelah berhasil melewati beragam faktor tersebut berarti ia telah menangkap begitu banyak ilmu.

Pada dasarnya belajar menulis itu berawal dari belajar membaca yang baik. Sehingga orang yang tidak mampu membaca yang baik, maka tidak akan mampu menulis dengan baik. Aktifitas menulis disini bukan berarti keterampilan menulis indah, tetapi menuliskan atau merangkaikan kalimat-kalimat menjadi sebuah karangan.
Hal yang mesti diketahui pula bahwa untuk dapat menulis, seseorang harus mempergunakan kedua belahan otak kanan dan kirinya. Seperti diketahui bahwa otak sebelah kiri berkaitan dengan kemampuan matematis logis, sementara otak belahan kanan berkaitan dengan penggambaran, irama dan musik atau lebih kepada daya kreatifitas.
Menulis adalah sebuah kegiatan yang melahirkan pikiran ( ide ) dan perasaan tulisan, sehingga diperlukan kemampuan untuk mengungkapkan gagasannya secara tertib dan teratur untuk dapat melaksanakannya. Keahlian keteraturan ini adalah spesifikasi bidang sisi otak kiri. Namun, untuk menulispun dibutuhkan kreatifitas dan imajinasi tinggi yang merupakan bidang kerja sisi otak kanan. Oleh karenanya, keterampilan dan keahlian menulis yang dikembangkan oleh Pesantren Kaligrafi Pskq Modern Kudus Jateng akan melatih dan mengembangkan kedua belahan otak secara bersamaan.

KH.Hasyim Asyari pendiri NU membuka kitabnya dengan mengutip hadits Rasulullah Saw.: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).

Illustrasi:
-Bersama anak-anak belajar Kaligrafi dan mewarnai sejak usia dini.
Close Menu