Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

BERKHAYAL BERANGKAT HAJI

Assiry gombal mukiyo, 11 Oktober 2016


Orang bisa bercerita dan mungkin mengklaim bisa berhaji gaib entah itu karena terinspirasi oleh para Wali yang bisa Rogosukmo atau menggunakan ilmu melipat bumi. Anda mungkin pernah mendengar kyai sakti yang selalu sholat Jumat ke Mekkah atau Waliyullah yang mengajak anak muridnya sholat di Baitullah. Padahal, zaman dulu belum ada pesawat terbang yang dapat menyingkat perjalanan. Diduga, para wali itu menggunakan Ilmu Melipat Bumi.  

Kisah para kyai atau wali yang dapat bepergian jauh dalam waktu singkat agaknya bukan mustahil. Dengan Ilmu Melipat Bumi tersebut seseorang dapat mempersingkat waktu perjalanan ribuan kilometer dalam hitungan detik. Konsepnya hampir mirip film Hollywood berjudul “JUMPER”. Dalam film tersebut dikisahkan seorang pemuda yang dapat ‘melompat’ dari suatu tempat ke tempat lain yang berjarak ribuan mil hanya dalam sekejap mata. Bukan berarti saya tidak percaya bahwa Allah bisa saja memberikan anugerah kepada siapa saja yang dikehendakiNya bahkan kepada Bapak Kasrin si tukang becak yang tinggal di RT 3/RW2, Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Rembang itu.

Bahkan untuk membuktikan bahwa ia sudah betul-betul berhaji ia dengan gagahnya menunjukkan Teko yang diakuinya dibeli dari Mekkah. Teko tersebut berwarna kuning dan terdapat motif khas arab. Padahal teko semacam itu banyak dijual di Toko-toko perlengkapan haji dan umrah, di Kudus juga banyak teko dan assesoris haji yang mudah didapatkan.

Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Banyak masyarakat kita yang mulai lelah, capek, pusing dan mulek menghadapi hidup ini, akhirnya terguncang jiwanya sehingga saking inginnya berangkat Haji kemudian Pak Kasrin membuat cerita berhaji lewat jalur mistik. Jalur perjalan haji yang tidak terdaftar oleh Pemerintah.

Pemerintah harus melakukan tindakan preventif dengan terus membenahi sistem pemberangkatan haji. Lha bagaimana tidak banyak yang stres, untuk bisa berangkat haji saja harus menunggu antrian hampir 20 tahun. Bahkan dari standar harganya yang makin tidak meringankan hingga jenis-jenis korupsi kecil-kecilan dan yang besar membuat banyak orang yang apatis untuk memutuskan tidak perlu pergi ibadah haji ke Mekkah " ora kaji ora pathe'en".

Mungkin Pak Kasrin berfikir praktis dengan mengaku berangkat haji dengan "ngintili" dan "gendolan" baju Ibu Indi yang dikenalnya sebagai Jin Muslim. Masyarakat kita sudah mulai rusak daya nalarnya, tidak hanya sekaliber professor juga rakyat miskin dan papa pun terjangkit penyakit ini. Ini penyakit baru yang menular. Keadaan ekonomi yang semakin menghimpit membuat orang menjadi stress dan terganggu jiwanya. Mulai artis-artis yang mencari Guru-guru Spritual namun akhirnya justru menjadi tempat pelampiasan dan Seks menyimpang, ribuan orang berburu ingin cepat kaya tanpa harus cape-capek kerja dengan cara penggandaan uangnya, meskipun secara logika hal ini adalah kegoblogan dan ketololan yang nyata, tetapi tetap saja ada yang percaya, bahkan mereka sekaliber Profesor, Doktor, Kiyai, tokoh masyarakat dan semacanya. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat kita yang ingin mendapatkan hasil yang cepat dan instan tanpa harus bekerja keras. Padahal pameo orang jawa mengatakan "Trisno jalaran soko kulino, mulyo jalaran gelem rekoso".

Meskipun Pak Kasrin begitu. Tapi, jangan memojokkan Pak Kasrin dengan mengatakan "penipu atau ndobol tok". Apalagi ketika kebetulan anda adalah salah satu tamu yang berkunjung ke rumahnya dan meminum air zamzam suguhannya itu dengan mengatakan " wah ini mah bukan zamzam tapi air pam". Tolong Pak Kasrin sudah sedemikian berat beban hidupnya, jangan kita tambahin dengan kata -kata "nyelekit" kita yang akan membuatnya semakin terbebani. Pak Kasrin adalah satu dari jutaan saudara kita yang saking inginnya berhaji karena latar belakang pekerjaan dan ekonominya yang pas-pasan akhirnya bermimpi dan cuma bisa berkhayal berangkat haji. 

Bisa jadi Pak Kasrin ini diberikan mabrur meskipun tidak pernah berhaji. Gejala kemabruran haji seseorang, bayangannya, pantulannya, barangkali bisa dijumpai pada output sosial seorang haji. Pak Kasrin sudah memilki kriteria itu, dia bukan orang jahat, dia menjadi suami yang bertanggung jawab untuk keluarganya meskipun sekadar menjadi tukang becak untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. 

Justru yang perlu ditanyakan kepada orang -orang yang sudah berangkat haji itu adalah : apakah sesudah haji, ia adalah madu bagi tetangga-tetangganya, bagi orang lain, bagi masyarakat, bangsa dan negara? ‘Menjadi madu’ itu punya kemanfaatan sosial, produktif dan kreatif bagi kemaslahatan umum. Dalam hal ini saya tidak bersedia ‘ngrasani’ tentang kualitas madu haji-haji anda. Apakah anda pejabat, kiyai, tokoh masyarakat, penjual celana dalam, penggembala kambing atau apa saja profesi anda. Karena sesungguhnya Kaum haji adalah tingkat manusia yang semestinya paling pandai bercermin diri.

Maka sudah sepantasnya kita doakan semoga Bapak Kasrin ini bisa berhaji secara nyata dengan jalur rizki yang Allah berikan dengan jalan yang tidak disangka-sangka "min haitsu la yah tasib". Amiiin. 

Close Menu