Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

KOPI SUSU WATER COLOR TAK SEGANAS KOPI MIRNA

Oleh : Dr. KH.Didin Sirajuddin AR. M.Ag, Pimpinan LEMKA

Foto Assiry Presiden Kaligrafi.
 
Foto Assiry Presiden Kaligrafi.

Mirna: "Kok, rasanya ga enak!"
Darwis: "Din, ente mo ngeracun ana?"
Pristiwa bulan September 1974 ini sudah jadul. Tapi seperti ada kelebat hubungan dngan waktu persidangan Kasus Racun KOPI MIRNA di bulan September 2016. Sudah 42 tahun!
 
Timur di Pondok Modern Gontor Jatim dan Barat di ruang sidang Jakarta. Kabar dari 2 arah mata angin ini srperti semilir "Angin Timur Dan Angin Barat" sebagaimana judul kitab karangan Pearl S. Buck.

Tidak seperti yang lain-lain, sayalah waktu itu santri yang paling blepotan tangannya dengan water color, medium satu-satunya yang saya gunakan untuk melukis. Tiada hari tanpa melukis. 

Aktvits rutin itu saya gunakan sebagai ajang uji coba mengolah warna. Setiap usapan warna adalah kombinasi- kombinasi rumus "mejikuhibiniu" (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu) yang digagas Hideaki Chijiiwa dalam kitab "Color Harmony."
 
Ini berarti, warna tidak boleh dibiarkan apa adanya, tapi harus diolah: "Don"t take color for granted!" spt kata Howard Simon dalam kitab "Colour And How To Use It" karangannya.
 
Perpaduan warna- warna itu akan menghsilkan warna-warna baru, misalnya biru+kuning jadi hijau, atau merah+biru menjadi violet, dst.

Di luar teori itu, saya juga menemukan "teori ngasal jadi" scra kebetulan: yaitu, ketika kuas yg berlumur sisa water color yang berwarna- warni dibersihkan di air gelas, warna "air kobokan" itu berubah menjadi "Kopi Susu". Ternyata seluruh warna bila disatukan akan membentuk warna Kopi Susu. Nah, di sinilah " malapetaka" itu trjadi.
 
Sudah 2 orang qurban minum "KOPI Susu" water color saya. Salah satunya adalah Darwis Sadir, kawan saya dari Sulawesi.

Saat sedang anteng melukis, dari belakang saya ada yang nanya, "Din, boleh ni?" Suara Darwis. Saya tau dari suaranya yang khas, dia langsung saja mengambil "gelas ajaib" ysng saya taruh di dibelakang Langsung saya jawab, "Boleh." Tapi tiba-tiba brrrroooottt wueekkk........ !!! "Kopi Susu" Itu nyembur mengenai punggung saya.

"Din, ente mo ngeracun ana?" gebrak Darwis dengan mulut semu bergetar sambil dimanyun-manyunkan, mungkin karena pahitnya "Kopi Susu" itu. "Siapa mau ngeracun?" Jawab saya balik bertnya, "Saya cuma menjawab boleh karena ente tanya boleh ga?

Masih alhamdulillah, Darwis tidak apa-apa, Karena ngga nelan kopi susu palsu tersebut. Tapi saya fikir kata- kata Darwis lebih maju daripada Mirna karena Darwis ngga sempat nelan tapi sudah protes, " Din, ente mau ngeracun ana?". Sedangkan Mirna nyruput kopi dahuhu air kopi bersianida di cafe Oliver, baru protes, "Kok, rasanya gak enak?" Maka, MIRNA pun tewas.

Atau karena "kopi Susu" water color tdk SEGANAS KOPI MIRNA? Hehhee..
=======================================================================

Illustrasi :
- Ayahanda, Ustaz kami Dr.KH.Didin Sirajuddin AR bersama Ibunda Hj.Aah dan Iwan putranya.
Ini adalah cerita humor yang unik gaya "Pak Didin", begitu banyak orang memanggil beliau. Cerita ini dikirim melalui WA saya tadi siang (Minggu 23 Oktober 2016), mungkin untuk menghibur saya yang drop sehingga saya undur jadual mengisi Workshop Kaligrafi bulanan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

- Banyak karya -karya tulisan beliau mulai dari buku sejarah kaligrafi, serial belajar kaligrafi, humor kaligrafi dan melukis komik bahkan kumpulan 100 surat cinta untuk ibunda Hj.Aah saat mudanya tidak luput dari kreatifitas dan olah sastranya yang sangat tinggi.
 
- Pak Didin adalah putra terbaik negeri ini yang terus membumikan dan menabur benih -benih kaligrafi. Ribuan kaligrafer bermunculan tumbuh pesat di negeri ini berkat sentuhan tangannya. Saya adalah satu dari sekian ribu muridnya yang tersebar di pelosok Indonesia. Semoga panjang umur dan selalu sehat Ustazy...Amiiin.
 
- Engkau bukan hanya milik LEMKA tapi juga milik seluruh pecinta kaligrafi di negeri ini.
Close Menu