Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

WALI SONGO

Assiry gombal mukiyo, 29 Maret 2017


Sesungguhnya perjalanan Islam di Indonesia itu sangat tergantung dari perjuangan dakwah Wali Songo. Sejak abad 8 sudah ada pedagang Arab Muslim yang tinggal di Indonesia, pun sejak abad 13 banyak pedagang Cina Muslim yang menyebar di Indonesia. Tapi mereka semua gagal merayu penduduk Indonesia untuk memeluk Islam.

Sampai abad 16 ketika wali songo dengan akulturasi Islamnya mulai mendapatkan simpati dari penduduk Indonesia. Mula-mula dimulai dari Jawa, ketika Jawa sudah memeluk Islam, pulau-pulau lain pun lambat laun mengikuti.

Islam Wali Songo adalah Islam realistis, Islam yang fleksibel terhadap kebudayaan lokal, hanya intisari Islam yang diambil, bukan dimakan beserta ampas-ampas Arabnya. Tentu ada intrik-intrik politik juga bermain dalam penyebaran agama ini, tapi sejarah menunjukkan bahwa keluwesan penyampaian ajaran Islam lah yang menentukan diterimanya Islam sebagai agama mayoritas orang Indonesia.

Puritanisasi Islam Wahabi atau bahkan radikal yang dicoba diperkenalkan di Indonesia adalah anti historis, oleh karena itu amatlah sangat disayangkan. Islam yang akrab dengan wayang, tahlilan, tembang mocopat, dan dinamika manusia Indonesia adalah bagian dari tradisi mengislamkan nusantara. Islam itu bukan Arab, dan Arab tidak selalu Islam. Filterisasi Islam dari ampas-ampas beban sejarah dan budaya yang kemudian disinergikan dengan indah oleh Walisongo dengan budaya baru adalah pemerkaya khasanah Islam dunia. Karena justru mungkin Islam adaptif akulturatif seperti itulah Islam sejati-jatinya Islam.
Close Menu