Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Hakikat Qurban

Assyri gombal mukiyo, 2013
Selama ini kita tahu bahwa ayat yang menyuruh kita untuk berqurban adalah QS Al-Kautsar. Adapun Azbabun Nuzul QS al-Kautsar ini, pada saat Rasulullah menerima surat tersebut, beliau seolah-olah seperti pingsan, begitu sadar beliau langsung tersenyum, kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa al-Kautsar adalah pintu surga yang khusus disediakan untuk beliau.
Namun ayat yang spesifik perintah Qurban adalah QS. Al-Hajj : 34 sampai ayat 37. Inti dari ayat-ayat tersebut adalah untuk menegaskan bahwa berqurban itu hendaknya dilakukan Lillah, hanya untuk Allah, berbeda dengn agama tradisi lainnya dimana banyak ditujukan agar meredam amarah penguasa atau tuhannya. Dan yang diminta Allah ketika kita berqurban bukanlah daging qurban itu sendiri, melainkan ketaqwaan, kepatuhan atau keikhlasannya. Ciri ciri orang yang patuh (mukhbitin) dalam ayat tersebut yakni : 
  •  Apabila disebut nama Allah hatinya bergetar 
  • Sabar 
  • Mendirikan sholat 
  • Senang bersedekah.

Di Indonesia pada saat jaman kemerdekaan, banyak sekali orang tua yang berlaku layaknya Nabi Ibrahim yakni mendorong anaknya ke medan perang, sedangkan anak muda pada saat itu juga dikatakan sebagai Ismail, yang sama sekali tidak mempunyai rasa takut. Coba kita bandingkan pada jaman sekarang?. Dalam hal mencontoh Nabi, kita harus pilah dulu mana yang bagian agama mana yang hanya sekedar tradisi. Misal ketika nabi makan, Nabi selalu berdo'a sebelum makan itu adalah bagian dari Agama, sedangkan ketika Nabi yang selalu makan dengan tiga jari itu bisa jadi karena memang pada saat itu yang dimakan adalah kurma, roti, dan sejenisnya. Bisa jadi kalau seandainya Nabi diturunkan di Jepang, maka tradisi makannya mungkin juga memakai sumpit. Sedangkan kalau di indonesia tradisi makan pakai tiga jari kita telan ini mentah -mentah sebagai sunnah dan bagian dari agama bukan tradisi maka bakso,soto dan sejenis makanan panas lainnya anda makan panas -panas pakai tiga jari tanganmu ya mlocottt.

Hakikat Qurban disamping disebut al-Qur'an al-Hajj tadi untuk membentuk sikap jiwa tunduk kepada Allah, juga merelakan apapun untuk kepentingan orang lain. Qurban bisa dikatakan sebagai menyembelih egoisme, menyembelih keserakahan. Kebahagiaan kita sebenarnya adalah ketika kita bisa berbuat Ihsan.Berbagi dengan siapapun yang membutuhkan.

Pengunaan idiom atau istilah-istilah saat ini banyak mengalami pendangkalan. Semua kata yang bernilai sudah habis dipakai orang-orang untuk direndahkan. Misal para koruptor sekarang menggunakan kata sandi atau istilah Kiai untuk menyebut anggota DPR, terkait dengan proyek yang sedang di korup. Istilah Pesantren adalah sebutan untuk badan atau kementrian yang mengeluarkan proyek. Istilah Tahlilan adalah meeting atau pertemuannya. Bahkan untuk acara mesum dipakai istilah jamaah. Sehingga ketika para koruptor yang menggunakan istilah-istilah itu melalui SMS, maka itu tidak akan bisa dijadikan fakta hukum yang bisa menjeratnya. Ada fenomena yang Allah melegitimasi langsung yakni, summum bukmun umyun fahum la yarji’un (mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan bisa kembali), La yarji’un itu mengandung arti tidak bisa disembuhkan.

Kita sudah ratusan tahun disesatkan oleh berbagai kesalahan kata-kata, idiom, istilah, dari masalah yang menyangkut politik, budaya, agama, hingga apa saja, maka produknya adalah keseleo otak. Sudah tidak bisa membedakan mana pohon, mana akar.Tidak bisa membedakan agama sama mazhab. Madzhab dianggap Agama, tape dianggap Jemblem. Wong saiki rumangsane panen seggo, bukan panen pari.
Terus ada yang tugasnya mencari seggo karak, pokoknya kalau ada karak berarti itu teroris, langsung saja ditangkap, meski karak itu tidak melakukan apa-apa. Padahal di dalam hukum,  yang seharusnya disalahkan itu adalah perbuatan, bukan identitasnya. Kira-kira karak yang diam itu salah apa tidak? Tentu saja tidak salah, tapi kalau karak itu dilempar ke wajahmu, perbuatan itulah yang salah, bukan karaknya. Dalam konteks Densus 88 dan terorisme saat ini, semua orang bisa bilang, ini lho teroris silakan ditangkap, dan hingga saat ini tidak ada yang kritis terhadap hal ini. Kok ada penangkapan terhadap terorisme, identitas kok ditangkap.

Selama ini kita terkesan malu jadi orang jawa, jowone ga digowo, kalau di senetron orang jawa selalu direndahkan, mendapat peran sebagai pembantu dengan logat medok yang dipaksakan. Arab ditelan begitu saja, misal belum berangkat umroh saja sudah berpakaian seperti Abu Jahal.  Tapi itu tidak apa-apa, Hak Asasi Manusia. Islamnya orang Arab itu berbeda dengan Islamnya orang Jawa, meskipun secara prinsip, akidah, akhlaknya sama, tapi output kebudayaan Islam itu jelas beda. Misalnya saja Konsep “Birrul Walidain”. Kita adalah bangsa yang paling punya kelembutan hati untuk menerapkan "Birrul Walidain" itu, kita punya budaya sopan santun bahasa dan budaya kepada orang tua yang tidak dimiliki Amerika bahkan Arab sekalipun. Kita juga punya mendem jerro mikul duwur, semakin tua semakin dijunjung. Di Amerika tidak ada, begitu umur pensiun, langsung dikumpulkan ke panti Jompo, dan itu adalah siksaan bagi orang-orang tua di Amerika.


Anda harus bersyukur berlipat-lipat karena menjadi anak buahnya Kanjeng Nabi. Dalam suatu peperangan, yang harus kita ketahui dari lawan adalah bagaimana strategi perangnya. Padahal dalam situasi peperangan, tak ada satupun musuh atau lawan yang mau membocorkannya. Bersyukurlah, karena Iblis bersedia membocorkan "strategi perang"nya kepada Nabi, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya atau tidak”.

Berkurban untuk memerangi kemiskinan,korupsi dan keserakahan,menikam jantung busung lapar dan menyembelih apapun yang berbau selain Tuhan. Karena idiom dasar dari tujuan hidup dan mati kita adalah Allah (inna sholatii wanusuki wa mahyaaya mamamatii lillahi rabbi al aalamiin).Inilah intisari kehidupan kita yang seyogyanya menerapkan essensi kurban. Bukan untuk menumpuk harta dari sebuah jabatan,  untuk mertua,pacar, makan enak , nyawer atau bahkan karaokean.
Close Menu