Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Muhammadiyah

Assiry gombal mukiyo, 2013.

Perbedaan Muhammadiyyah dulu dan Muhammadiyyah yang sekarang sangat mencolok.Bahkan hal ini tidak disadari oleh para pengikut Muhammadiyyah diwilayah Nusantara ini. 

Mereka kurang memahami siapa Kyai Dahlan itu sendiri. Tulisan ini hendak mempertegas tulisan yang telah lalu berjudul “Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah yang sebenarnya. Pertanyaannya adalah Ada apa dengan Muhammadiyyah yang sekarang ?apakah betul ajaran -ajaran Syeikh Ahmad Dahlan justru mulai diabaikan bahkan ditinggalkan?

Mari kita simak, biar yang mengaku Muhamadiyah tahu sejarahnya sendiri.
Secara ringkas dan gamblang saja bahwa, KH.Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Berikut kita kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:

  1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
  2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
  3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
  4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
  5.  Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
  6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam,
  7. Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
  8. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
  9. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).
KH.Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH.Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH.Shaleh Darat Semarang.KH.Shaleh Darat adalah ulama besar yang dikenal linuwih.Bagi kalangan nahdliyyin beliau adalah seorang waliyullah.yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.

Di pesantren milik KH.Murtadha (sang mertua), KH.Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya.Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari.Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun.Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.

Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”.Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.

Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara.Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara.Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya.Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.

Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah.Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah.Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama).Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah.Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.

Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari.Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH.Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci.Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH.Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad S
AW adalah Qunut Nazilah.Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.

Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw.Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.

Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat.Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh.Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf.Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.

Jadi, baik KH.Ahmad Dahlan dan KH.Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Bahkan Ketua PP. Muhammdiyah sendiri , Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat.Namun anehnya setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkan lagi doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih pun sekarang berubah menjadi sebelas rakaat.”

Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.Ini yang menurut saya sang
at aneh, padahal jelas dan sudah paten bahwa yang mendirikan Muhammadiyyah adalah Ahmad Dahlan.

Masihkah diantara kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?
Masih pantaskah mereka yang m
engatas namakan kaum muhammadiyyah tapi tidak meniru amalan ubudiyyah dan fiqih Ahmad Dahlan.

Jadi Muhammadiyyah yang sekarang ini aliran apa lagi ?
Sudahlah saya juga tidak terlalu penting buat saya toh saya bukan Muhamadiyyah dan juga bukan Nahdliyyin.
 
Lha wong saat saya nanya Kanjeng Nabi t
entang keberadaan Nu dan Muhammadiyyah,kanjengNabi Muhammad malah menjawab " aku malah ngga tau itu apa NAHDLATUL ULAMA. lha Muhammadiyyah itu juga apa ko malah nama saya yang dibawa-bawa jadi nama ormas. Aku itu taunya ya Islam yang rahmatan lilalamin,kan sampean sudah jelas to mas, aku di utus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia, lha wong cuma soal gitu aja ko ribut. Mana akhlak dulu yang aku ajarkan kepada kalian semua agar saling menghargai dan menghormati setiap apapun perbedaan.Yo to mas?"

Saya hanya bisa menunduk dan sesekali m
enyeka air mata mendengar kesaksian kanjeng Nabi,seakan hati ini meronta-ronta dan jiwa membeku dan kelu melihat ini semua.
Close Menu