Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

Kadar Sandal Jepit

Assiry gombal mukiyo, 2 November 2014

KADAR SANDAL JEPIT
Assiry gombal mukiyo, 2014

Meski hanya sepasang sandal jepit namun akan tetap berarti jika tetap berpasangan, yang kiri tak berarti sebuah sandal jika tak ada yang kanan.
Meski terkadang digantikan dengan yang lain,
Namun tetap tak nyaman,
Sepasang sandal jepit selalu berjalan beriringan.
Meski melangkah tak bebarengan namun tetap satu tujuan.

Berapa banyak orang mencari pasangan dalam kehidupannya melandaskan seabreg kriteria ideal. Pokoknya mesti ini, mesti yang begitu. Intinya berharap setidaknya sama dengan dirinya dan kalau bisa lebih dari dirinya. Wajar memang mencari kesempurnaan. Setiap orang pasti menginginkan ideal, spesial, dan sempurna. Kalau diri adalah “matahari”, pastinya menginginkan “matahari”. Sama-sama bintangnya, sama-sama bersinarnya, dan sama-sama kuatnya.

Bagaimanapun, mari renungkan sejenak, apa yang akan terjadi jika ada dua matahari di bumi ini? Tidakkah lebih baik mataharinya ada satu dan bulannya satu? Apalah jadinya jika sandal jepit itu kanan semua atau kiri semua? Bukankah lebih baik ada dua-duanya? Tidak benar-benar sama (tetap ada bedanya) tetapi saling melengkapi. Justru ketika keduanya bersanding bersama nampak serasi bagi yang memakainya. Bukankah itu yang dicari dalam kehidupan ini? Keserasian, saling mengisi, saling menguatkan, dan saling bisa menggantikan posisi saat dibutuhkan.

Pernahkan membayangkan ketika sandal jepit yang dipakai itu kanan semua atau kiri semua? Nyamankah? Tentu kesusahan untuk berjalan. Begitu kira-kira yang terjadi. Sama halnya dalam sebuah tim, mesti ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada Presiden dan Rakyat jelata, mesti ada pemikir dan ada pelaksana. Jika isinya pemikir semua, bisa dipastikan hanya debat dan curah gagasan tanpa hasil nyata yang didapatkan. Jika isinya pelaksana semua, bisa dipastikan masing-masing bekerja tetapi tanpa arahan yang sama. 

Dalam konteks kebudayaan,  sandal jepit terkadang lebih mulia dari pada peci.Seseorang yang pergi ke Masjid dalam keadaan berwudhu, tapi tika tidak mengenakan sandal tentu dia wajib melakukan wudhu kmbali, meskipun dia sudah berpeci, karena dimungkinkan telapak kakinya menginjak lencong ( tai ayam ) atau sesuatu yang mengandung najis. Tidak selamanya yang dibawah itu  lebih rendah status sosialnya dibanding dengan yang diatas. Yang dibawah pun belum tentu lebih rendah status ketaqwaannya di banding seseorang yang boleh dikatakan lebih terhormat strata agama maupun pemahamannya meskipun jidatnya hitam dan sorbannya panjang terjuntai. Kecil dan camping bukanlah ukuran untuk menentukan dan mnyimpulkan bahwa yang kecil itu kecil dan yang besar adalah besar.
Meski hanya sepasang sandal jepit namun akan tetap berarti jika tetap berpasangan, yang kiri tak berarti sebuah sandal jika tak ada yang kanan.



Meski terkadang digantikan dengan yang lain,
Namun tetap tak nyaman,
Sepasang sandal jepit selalu berjalan beriringan.
Meski melangkah tak bebarengan namun tetap satu tujuan.


Berapa banyak orang mencari pasangan dalam kehidupannya melandaskan seabreg kriteria ideal. Pokoknya mesti ini, mesti yang begitu. Intinya berharap setidaknya sama dengan dirinya dan kalau bisa lebih dari dirinya. Wajar memang mencari kesempurnaan. Setiap orang pasti menginginkan ideal, spesial, dan sempurna. Kalau diri adalah “matahari”, pastinya menginginkan “matahari”. Sama-sama bintangnya, sama-sama bersinarnya, dan sama-sama kuatnya.

Bagaimanapun, mari renungkan sejenak, apa yang akan terjadi jika ada dua matahari di bumi ini? Tidakkah lebih baik mataharinya ada satu dan bulannya satu? Apalah jadinya jika sandal jepit itu kanan semua atau kiri semua? Bukankah lebih baik ada dua-duanya? Tidak benar-benar sama (tetap ada bedanya) tetapi saling melengkapi. Justru ketika keduanya bersanding bersama nampak serasi bagi yang memakainya. Bukankah itu yang dicari dalam kehidupan ini? Keserasian, saling mengisi, saling menguatkan, dan saling bisa menggantikan posisi saat dibutuhkan.

Pernahkan membayangkan ketika sandal jepit yang dipakai itu kanan semua atau kiri semua? Nyamankah? Tentu kesusahan untuk berjalan. Begitu kira-kira yang terjadi. Sama halnya dalam sebuah tim, mesti ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada Presiden dan Rakyat jelata, mesti ada pemikir dan ada pelaksana. Jika isinya pemikir semua, bisa dipastikan hanya debat dan curah gagasan tanpa hasil nyata yang didapatkan. Jika isinya pelaksana semua, bisa dipastikan masing-masing bekerja tetapi tanpa arahan yang sama.

Dalam konteks kebudayaan, sandal jepit terkadang lebih mulia dari pada peci.Seseorang yang pergi ke Masjid dalam keadaan berwudhu, tapi tika tidak mengenakan sandal tentu dia wajib melakukan wudhu kmbali, meskipun dia sudah berpeci, karena dimungkinkan telapak kakinya menginjak lencong ( tai ayam ) atau sesuatu yang mengandung najis. Tidak selamanya yang dibawah itu lebih rendah status sosialnya dibanding dengan yang diatas. Yang dibawah pun belum tentu lebih rendah status ketaqwaannya di banding seseorang yang boleh dikatakan lebih terhormat strata agama maupun pemahamannya meskipun jidatnya hitam dan sorbannya panjang terjuntai. Kecil dan camping bukanlah ukuran untuk menentukan dan mnyimpulkan bahwa yang kecil itu kecil dan yang besar adalah besar.
Close Menu