Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

LITA'AARAFU

Assiry gombal mukiyo, 7 Januari 2015

Banyak budaya dalam dunia ini yang sangat relatif, misalnya cara makan, cara berpakaian, termasuk juga cara bergaul itulah justru yang menjadikan kita bisa saling menghargai dan tidak merendahkan satu dengan lainnya.

Budaya Eropa menganggap makan jangan sampai mulutnya berbunyi, juga ditradisi betawi anda makan sambil berbunyi apalagi sambil sendawa keras -keras bisa saja tangan sebelahmu saat makan bisa melayang kemulutmu hingga jontor akibatnya..hheheuu......

Tapi di Jepang justru kalau makan terutama makanan berkuah harus berbunyi dan juga sangat dianjurkan untuk sendawa keras-keras, karena itu menunjukkan keenakan makanan dan penghargaan untuk yang masak.

Di Arab, baju harus tertutup dari kepala sampai ke bawah karena cuaca dimana siang yang sangat panas dan malam yang dingin, panas dan dinginnya di arab itu kering sehingga jika tubuh tidak memakai paksian tertutup kulit bisa ngelupas karena panas sehingga dahulu waktu saya jalan -jalan ke Mekkah dan madinah seperti para pejabat negara untuk sekadar cebok dari dosa atau biar dianggap saya orang yang sholeh, saya menggunakan hand body sebagai pelindung terik panas.Sedangkan di suku-suku tropis yang cuacanya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin tapi lembab, memakai pakaian sekedarnya saja, kalau perlu cuma celana dalam kalau tidur misalnya.

Di banyak tempat, hidup itu harus bersama, semua hal dilakukan bersama seperti di Bali dengan sistem banjar dan keagamaannya, kadang mandi di kali bersama -sama dengan pria maupun wanita. Mungkin ditempat anda kalau hal ini dipraktekkan bnyak perawan yang hamil tidak tahu siapa Bapaknya.
Meskipun dibanyak tempat lain seperti di Amerika peran individu dianggap penting.

Melihat hal itu, sebenarnya tidak berguna untuk memaksakan budaya kepada orang lain. Orang Eropa tidak perlu memaksakan budaya memakai garpu dan sendok dan table manner rumit kepada orang Asia yang masih banyak suka memakai tangan ( muluk).

0rang Arab tidak perlu mengkuliahi orang tropis lembab untuk berpakaian menutup tubuh dengan ditambah cadar menutup seluruh muka seperti ninja amerika. Cukup dengah hijab dengan pakaian longgar dan tidak ketat karena yang diperintahkan Tuhan itu menutup aurat ( hijab) bukan membungkus.

Orang Barat tidak perlu memaksa orang Jepang berjabatan tangan, sebagaimana Jepang juga tidak perlu memaksa orang non Jepang untuk membungkukkan badan. Satu-satunya budaya yang perlu disebarkan adalah budaya kebaikan dan kerja sama. Baik itu lewat negara, organisasi masyarakat, ataupun individu. Karena kebaikan dan kerjasama itu universal, dan secara saintifik tanpa altruisme sosial semacam itu maka tidak akan ada kemajuan berarti di dunia ini.

Marilah menghargai "koteka" sebagai kebanggaan budaya Warga papua, menghargai budaya dan adat istiadat daerah dari berbagai suku dan bangsa -bangsa. Konsep Tuhan yang diajarkan kepada manusia adalah "lita'aarafu" maksudnya adalah untuk saling mengenal dan menghargai peradan dan budaya masing -masing agar terjalin ukhuwwah dan kemanusiaan.
Close Menu