Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

MAHATMA GANDHI PENDOBRAK KASTA

Assiry gombal mukiyo, 16 Januari 2015

MAHATMA GANDHI PENDOBRAK KASTA
Assiry gombal mukiyo, 2015

Mahatma Gandhi, seorang pejuang kemanusiaan.  Sangat trenyuh melihat nasib ratusan juta manusia-manusia berkasta rendah atau bahkan tidak berkasta yang dalam bahasa kolonial Inggris disebut Untouchables atau Yang Tak Bisa Disentuh, karena memang menurut agama Hindu India jutaan manusia ini tak boleh disentuh sama sekali karena akan mengotori karma seseorang. 
Dalam bahasa lokal India sering disebut Dhalit, manusia tanpa kasta yang bahkan lebih hina dari kasta Shudra. Mereka sangat termarjinalkan, tidak punya properti, bahkan mereka dianggap properti oleh kasta-kasta lebih tinggi. Perempuan-perempuannya diperkosa dan disiksa, anak-anaknya tak berpendidikan bahkan yang bersekolah pun tak boleh menyentuh teman lain yang berkasta lebih tinggi dan selalu duduk paling belakang. Gandhi mencoba mengangkat derajat mereka dengan menyebut mereka Harijan, anak-anak Tuhan, karena bagi Gandhi semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan. 

Gandhi yang Hindu tulen hampir memiliki cermin pantulan ajaran Muhammad SAW. Dalam Islam sebenarnya tidak ada tempat untuk kasta-kasta. Semua orang sama kedudukannya di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah amalan hidupnya. Tapi yang lucu, setelah Muhammad  SAW.meninggal, banyak umatnya yang mencoba membuat kasta-kasta dalam Islam. Mereka berusaha membuat kasta spesial buat keturunan Muhammad. Ada yang menyebut mereka habib bagi lelaki, dan habibah bagi perempuan. Ada juga yang menyebut Syarif/Syarifah. Mereka dihormati sedemikian rupa, bahkan dalam sejarah banyak dianggap seolah-olah tidak pernah salah dan dijamin pasti Syurga. Dan mereka mendapatkan insentif politik ekonomi yang tidak sepantasnya mereka dapatkan. Dalam tradisi Arab yang patrilineal pun ini termasuk hal aneh, karena sejatinya Muhammad SAW.tidak punya garis keturunan, karena tidak punya anak laki-laki. Anak laki -lakinya meninggal sebelum menikah. Trah keturunan yang diambil adalah dari garis Fathimah RA. Ini yang terlalu berlebihan.

Islam adalah rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta, itu janji Muhammad SAW. Untuk mewujudkannya, harus dimulai dari hal mendasar yaitu derajat manusia yang seharusnya sama persis buat semua manusia tanpa ada perbedaan derajat sedikitpun ketika seseorang lahir. Mau anak tukang sol sepatu, anak pedagang asongan atau anak Presiden semua memiliki kedudukan dan derajat sama. Dihadapan Tuhan yang membedakan adalah dia baik dalam konteks yang lebiy luas atau bukan ( inna akramakum 'indallahi atqaakum)

Fenomena Habib adalah fenomena kasta memalukan dalam Islam, Islam yang seharusnya menjadi pembaharu malah mengulangi kesalahan agama-agama lalu dimana ada manusia lebih mulia hanya karena lahirnya saja bukan karena amalan dan perilaku baiknya. Dan agar sesuai dengan semangat Muhammad dan semangat egalitarianisme Islam, konsep Habib ini harus dibubarkan, dibuang jauh-jauh dari masyarakat Islam.

Lihatlah kelompok minoritas Habib yang katanya  "front pembela Islam". Yang terjadi justru bukan membela Islam tapi menjatuhkan Islam dititik nadir.
Ketika mereka dengan bangganya mengklaim anak cucu dari keturunan Muhammad SAW. 
Biarlah saya saja yang mengaku keturunan monyet, entah keturunan yang keberapa setelah jutaan bahkan ratusan juta tahun silam dari evolusi monyet yang disebut -sebut sebagai teori ilmiah oleh Kang Mas Darwin.

Mahatma Gandhi, seorang pejuang kemanusiaan. Sangat trenyuh melihat nasib ratusan juta manusia-manusia berkasta rendah atau bahkan tidak berkasta yang dalam bahasa kolonial Inggris disebut Untouchables atau Yang Tak Bisa Disentuh, karena memang menurut agama Hindu India jutaan manusia ini tak boleh disentuh sama sekali karena akan mengotori karma seseorang.

Dalam bahasa lokal India sering disebut Dhalit, manusia tanpa kasta yang bahkan lebih hina dari kasta Shudra. Mereka sangat termarjinalkan, tidak punya properti, bahkan mereka dianggap properti oleh kasta-kasta lebih tinggi. Perempuan-perempuannya diperkosa dan disiksa, anak-anaknya tak berpendidikan bahkan yang bersekolah pun tak boleh menyentuh teman lain yang berkasta lebih tinggi dan selalu duduk paling belakang. Gandhi mencoba mengangkat derajat mereka dengan menyebut mereka Harijan, anak-anak Tuhan, karena bagi Gandhi semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan.

Gandhi yang Hindu tulen hampir memiliki cermin pantulan ajaran Muhammad SAW. Dalam Islam sebenarnya tidak ada tempat untuk kasta-kasta. Semua orang sama kedudukannya di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah amalan hidupnya. Tapi yang lucu, setelah Muhammad SAW.meninggal, banyak umatnya yang mencoba membuat kasta-kasta dalam Islam. Mereka berusaha membuat kasta spesial buat keturunan Muhammad. Ada yang menyebut mereka habib bagi lelaki, dan habibah bagi perempuan. Ada juga yang menyebut Syarif/Syarifah. Mereka dihormati sedemikian rupa, bahkan dalam sejarah banyak dianggap seolah-olah tidak pernah salah dan dijamin pasti Syurga. Dan mereka mendapatkan insentif politik ekonomi yang tidak sepantasnya mereka dapatkan. Dalam tradisi Arab yang patrilineal pun ini termasuk hal aneh, karena sejatinya Muhammad SAW.tidak punya garis keturunan, karena tidak punya anak laki-laki. Anak laki -lakinya meninggal sebelum menikah. Trah keturunan yang diambil adalah dari garis Fathimah RA. Ini yang terlalu berlebihan.

Islam adalah rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta, itu janji Muhammad SAW. Untuk mewujudkannya, harus dimulai dari hal mendasar yaitu derajat manusia yang seharusnya sama persis buat semua manusia tanpa ada perbedaan derajat sedikitpun ketika seseorang lahir. Mau anak tukang sol sepatu, anak pedagang asongan atau anak Presiden semua memiliki kedudukan dan derajat sama. Dihadapan Tuhan yang membedakan adalah dia baik dalam konteks yang lebiy luas atau bukan ( inna akramakum 'indallahi atqaakum)

Fenomena Habib adalah fenomena kasta memalukan dalam Islam, Islam yang seharusnya menjadi pembaharu malah mengulangi kesalahan agama-agama lalu dimana ada manusia lebih mulia hanya karena lahirnya saja bukan karena amalan dan perilaku baiknya. Dan agar sesuai dengan semangat Muhammad dan semangat egalitarianisme Islam, konsep Habib ini harus dibubarkan, dibuang jauh-jauh dari masyarakat Islam.

Lihatlah kelompok minoritas Habib yang katanya "front pembela Islam". Yang terjadi justru bukan membela Islam tapi menjatuhkan Islam dititik nadir.

Ketika mereka dengan bangganya mengklaim anak cucu dari keturunan Muhammad SAW.
Biarlah saya saja yang mengaku keturunan monyet, entah keturunan yang keberapa setelah jutaan bahkan ratusan juta tahun silam dari evolusi monyet yang disebut -sebut sebagai teori ilmiah oleh Kang Mas Darwin.
Close Menu