Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

CINTAI TANAH AIR

Assiry gombal mukiyo, 25 Juli 2015



Anda tentu ingat beberapa penggal bait syair yang pernah ditulis oleh KH.Wahab Hasbullah seperti ini bunyinya:

Ya ahlal wathon ya ahlal wathon
Hubbul wathon minal iman
Wahai anak bangsa wahai anak bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman

Hubbul wathon ya ahlal wathon
Wa la takun ahlal hirman
Cinta tanah air wahai anak bangsa
Dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal

Innal kamala bil a'mali
Wa laisa dzalika bil aqwaali
Sesungguhnya kesempurnaan (Cinta tanah air) itu diringi perbuatan
tidak hanya sekadar ucapan

Sungguh memberikan dentuman semangat yang menggelorakan rasa cinta terhadap negeri ini. Terasa terbakar 'ghirah' kita untuk terus menggali, mengenali dan mencintai tanah air ini.

Penanaman rasa cinta tanah air perlu dilakukan kepada anak bangsa sejak kecil hingga dewasa. Dengan mendidik anak sejak kecil untuk mencintai tanah air akan memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap tanah tumpah darahnya, tanah air tempatnya tumbuh dan berkembang.

Hal itu harus terus dipelihara bahkan hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Rasa cinta itu merupakan modal dalam pembangunan negara. Selain menanamkan rasa cinta tanah air, juga perlu diajarkan kepada anak sejak dini yakni dengan meneladani akhlak yang mulia Nabi Besar Muhammad SAW.

Bangsa lain fokus membangun negerinya, sedangkan kita masih ribut memperdebatkan khilafiah dan mendirikan khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya.

 Menjungjung tinggi toleransi dan tenggang rasa menjadi oase di padang pasir keberagamaan yang begitu luasnya di negeri ini.

Inipun sudah dicontohkan para Pendakwah dahulu yang begitu toleran menghormati perbedaan. Mari kita melongok kembali bagaimana sejarah Sunan Kudus yang enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non muslim ( Hindu -Budha). Bahkan bangunan masjid kudus mengakomodasi arsitektur non muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal.

Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalikan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat merah putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jadi diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran.

Anak-anak kita ajak ke makam pahlawan, anak-anak mengerti itu orang mati, kita bukan untuk menyembahnya.

Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini. Agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.

Anda tentu tahu, sebut saja Musa 5 th Adik kecil kita yang tampil hebat mengikuti lomba Tahfidz tingkat dunia , Hafiz cilik Indonesia itu diminta tinggal di Saudi. Sebagian warga Arab Saudi tampaknya terkesan dengan kemampuan Musa saat mengikuti lomba menghafal Alquran di Jeddah.

Sehingga, sebagian warga Negeri Petro Dolar itu meminta bocah yang belum genap berusia enam tahun itu tetap tinggal di sana.

Begitu bangganya kita, sehingga banyak yang mengusulkan agar Keluarga Musa Al Hafidz menerima tawaran dari Pemerintah Saudi dan tidak menyia -nyiakan kesempatan itu.

Jika para pendiri bangsa ini, para professor dan ilmuwan indonesia, putra -putri bangsa yang brillian dan berprestasi Dunia berfikir untuk hijrah ke negara lain dan membangun negara tersebut dengan dalih bahwa Indonesia tidak memberi penghargaan apapun tentu Pak Habiby lebih senang pindah menjadi Warga negara Jerman.

Apa yang didapatkan Habiby di indonesia hanya dipuja dan dihibur hatinya dengan film Dokumenter sedangkan di Jerman Habiby tentu sudah kaya raya karena bisa membuat pesawat disana.

Saya lebih senang hidup di kampung, disebuah Desa terpencil untuk mengabdikan seluruh hidup membumikan Seni Rupa islami dan kaligrafi Al Quran. Bukan karena tidak pernah mendapatkan kesempatan seperti Musa dan lainnya. Tahun 2002 dan 2006 ketika saya menyabet prestasi juara 1 pada 4 kategori sekaligus di tingkat ASEAN di Brunay Darussalam. Sayapun mendapatkan tawaran untuk menjadi penulis di Kementrian Agama " Hal ehwal Ugama" di Brunai Darussalam dengan gaji yang cukup untuk membeli motor baru setiap bulannya bahkan lebih dari itu.

Rasa cinta terhadap negeri ini jauh lebih besar. Setahun kemudian saya memilih hidup saya mendirikan gubug PSKQ Modern pada tgl 17 Januari 2007, di sudut kampung dan 'ndeso" tanpa berharap apapun bahkan gaji pun saya tidak dapatkan di PSKQ karena saya gratiskan.

Cinta terhadap tanah air tidak perlu digembar -gemborkan. Cukup berbuatlah untuk negeri ini. Melakukan yang terbaik yang kita mampu sekecil apapun itu.

\
Close Menu