Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

MENJAGA TOLERANSI

Assiry gombal mukiyo, 17 Juli 2015


Kita jarang sekali mendengar kisah Kanjeng Nabi Muhammad yang pernah mempersilahkan rombongan orang Kristen melakukan misa di Masjid Nabawi, sebagaimana juga kita jarang mendengar Umar bin Khatab yang sembahyang di pelataran gereja. Kita juga jarang mendengar jaminan Kanjeng Nabi Muhammad yang ditandatangani langsung oleh Nabi dan dikirimkan terhadap orang Kristen dan agama lain agar bisa hidup aman dan tentram tanpa diganggu.

Semua kisah-kisah tersebut adalah kisah sebenarnya yang hampir sama sekali kita tidak pernah mendengarnya dan justru kita sering mendengar para ustadz atau beberapa oknum habib yang berteriak-teriak menakuti non muslim, melarang pembangunan gereja, mengancam Ahmadiyah dan Syiah, bahkan mengkafirkan sesama muslim.

Agama itu berguna jika dia menjadi alat perekat kemanusiaan, bukan alat penebar kebencian. Agama itu tidak pernah mencapai tujuannya jika justru saling mengancam dan bersautan pedang. Adalah tugas umat beragama untuk kembali ke tujuan awal agama masing-masing. Yang Islam kembali ke rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta. Yang Kristen kembali ke Cinta Kasih. Yang Hindu kembali ke Tri Hita Karana. Yang Buddha kembali ke 8 Jalan Kebenaran.

Mari kembali ke fitrah( iied Al Fitr), ke tujuan asal, ke sikap dasar. Perbedaan adalah fitrah adanya, perbedaan itu sudah sejak awal ada dan akan terus ada. Hal terindah yang harus kita lakukan adalah toleransi atas perbedaan-perbedaan itu. Tentu kita boleh saling mengingatkan atau berdiskusi atau bahkan mengkritik, tapi semua itu harus berdasarkan rahmatallilalamin, cinta kasih, tri hita karana, 8 jalan kebenaran. Karena di atas segala perbedaan itu, kita punya persamaan yang jauh lebih penting yaitu persamaan sebagai sesama umat manusia yang menempati planet indah bernama bumi yang harus kita jaga bersama dan kita rawat bersama.

Semoga semesta memberkati kita semua dan semua manusia hidup dalam satu cinta, cinta yang menyelimuti semesta raya.
Close Menu