Selamat Datang di assiry.kaligrafi-masjid.com , kami ahlinya membuat kaligrafi masjid dan karya seni rupa yang lain, silakan anda lihat karya-karya kami, besar harapan bisa bekerja sama dengan anda.

assiry.kaligrafi-masjid.comadalah buah karya dari Muhammad Assiry Jasiri, seorang seniman dari kota Kudus. Sejak kecil, ia sudah terlihat bakatnya dalam bidang seni. Bakat tersebut semakin terasah seiring bertumbuh remaja di bawah bimbingan para guru kaligrafi ternama di Kudus. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan belajar ilmu seni rupa kepada kakak kandungnya, Rosidi. Kini, segudang prestasi kaligrafi telah ia raih baik di tingkat Nasional maupun di Asia tenggara (ASEAN). Sudah begitu banyak pula masjid/musholla, gedung, maupun kediaman pribadi yang sudah tersentuh goresan tangannya.

Melalui gubug online ini, kami berharap bisa memberi inspirasi anda dan dengan senang hati kami siap melayani semua kebutuhan akan seni rupa dan kaligrafi, desain artistik, serta beragam produk kerajinan khas Indonesia dengan desain eksklusif.

PEMAKAN BANGKAI

Assiry gombal mukiyo, 09 Agustus 2015

Tabayyun, chek re-chek dan konfirmasi, dalam menyikapi kabar atau berita, terutama yang diragukan sumbernya, adalah perintah al Qur'an. Kalau kita dan media-media beratribut Islam mengabaikannya; lantas apa beda kita dengan para pemakan bangkai ( istilah Al Qurannya: tukang Ghibah ) yang sekarang menguasai ruang publik?
Apa jangan -jangan budaya nggrumungi ( red: membicarakan orang) atau menggosip adalah salah satu budaya adiluhung kita saat ini. Tanpa ditelaah dan dicerna sehingga apapun berita gosip yang didapat langsung dimakan mentah.

Kita senang sekali bahkan sangat menikmati sehingga semenit saja tidak "nggosip" badan kita terasa meriang bahkan bisa kejang -kejang.

Jika dahulu kita sering mendengar dirumah -rumah reot dengan lampu petromak terdengar sayup -sayup orang membaca Al Quran sekarang rumah -rumah kita diisi dengan acara pengajian ghibah, perkumpulan ghibah dan semacamnya.

Di teras rumah, di gardu pos kampling, di media cetak dan elektronik kita semakin rajin memeriahkan ghibah bahkan lebih meriah dari pesta perayaan 17 Agustus setiap tahunnya.

Ranah perghibahan kita meluas bukan hanya mulut kita saja tetapi tangan -tangan kita juga terampil dan semakin menjadi -jadi dengan menuliskan tentang tema-tema pergunjingan.

Barangkali prestasi kita yang gemilang ini bisa kita usulkan kepada Presiden kita untuk diadakan semacam lomba "Ghibah Nasional" piala Presiden. Karena Ghibah ini tidak lagi dilakukan oleh perorangan , kelompok -kekompok kecil tapi sudah menjadi bisnis dan aset negara yang sangat menguntungkan saat ini, sehingga perlu juga diajukan perlindungan atas hak cipta agar tidak diakui atau diklaim sebagai budaya negeri tetangga seperti batik, reog ponorogo dan lainnya.

Saran saya biar terkesan islami tayangan gosip yang di TV itu kita ganti dengan nama islami, misalnya menjadi “Gosip Islami”, sehingga nanti juga lahir gagasan membuat tempat pelacuran menjadi "Lokalisasi Pelacuran Islami”, “Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau "pertandingan volley ball wanita Muslimah syar'i", "Miras syar'i", "PSK Syar'i", atau apa saja silahkan anda teruskan sendiri.

Pokoknya biar tidak terkena fatwa haram MUI. Jadi apa saja yang berkaitan dengan kemungkaran kita kasih cap atau label syar'i atau islami.
Close Menu